BATU, RADAR BATU - Lima anak di Kota Batu terkonfirmasi Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) sepanjang Januari-Juni 2026.
Rinciannya, tiga kasus campak dan dua pertusis. Temuan tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) karena kedua penyakit tersebut dapat dicegah melalui imunisasi.
Pemegang Program Imunisasi Dinkes Kota Batu Adi Koesaini mengatakan setiap temuan langsung ditindaklanjuti melalui pelacakan epidemiologi.
Baca juga: Ingin Menikmati Citylight Kota Batu? Ini 2 Spot dengan Pemandangan dari Ketinggian - Radar Batu
Penelusuran dilakukan terhadap pasien dan kontak erat untuk mencegah penularan. “Ada dua anak terkena pertusis dan tiga anak terkena campak,” ujarnya.
Penanganan kontak erat disesuaikan dengan jenis penyakit. Pada kasus pertusis, kontak erat mendapat profilaksis selama tujuh hari berturut-turut.
Sementara kontak erat pasien campak diberikan vitamin A. Pemantauan kesehatan juga dilakukan terhadap kontak erat.
Baca Juga: Enam Bulan, Lima Anak Terjangkit PD3I. Tiga Kasus Campak, Dua Pertusis - Radar Batu
Kondisi pasien yang menjalani perawatan turut dipantau untuk memastikan tidak terjadi penularan lebih luas.
Kepala Puskesmas Bumiaji dr Kartini Kristalina mengatakan campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Penularannya terjadi melalui percikan saluran pernapasan penderita.
“Waktu potensi penularan terbesar yaitu empat hari sebelum muncul bintik kemerahan dan empat hari sesudah muncul bintik kemerahan,” jelasnya.
Baca Juga: Harga Daging Sapi di Kota Batu Tembus Rp 150 Ribu - Radar Batu
Dinkes juga melakukan skrining untuk menemukan kasus lebih awal. Di Kecamatan Bumiaji, terdapat 12 suspek campak dari hasil skrining.
Namun, seluruhnya belum dinyatakan positif. Kartini menjelaskan gejala campak umumnya diawali demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah.
Setelah itu, muncul ruam yang biasanya bermula dari wajah atau belakang telinga dan menyebar ke bagian tubuh lain.
Baca Juga: Ingin Menikmati Citylight Kota Batu? Ini 2 Spot dengan Pemandangan dari Ketinggian - Radar Batu
Sementara pertusis disebabkan bakteri Bordetella pertussis. Penyakit tersebut dikenal sebagai batuk rejan atau “batuk 100 hari” karena serangan batuk dapat berlangsung lama.
Temuan lima kasus tersebut menunjukkan pentingnya menjaga cakupan imunisasi dan deteksi dini. Anak yang belum mendapat imunisasi lengkap memiliki risiko lebih besar terpapar penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Karena itu, Dinkes terus memperkuat pelacakan kontak, skrining, penanganan pencegahan, dan imunisasi. Langkah tersebut dilakukan untuk menutup celah penularan PD3I di Kota Batu
Editor : Fajar Andre Setiawan