Enam Bulan, Lima Anak Terjangkit PD3I. Tiga Kasus Campak, Dua Pertusis

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 01:21 WIB
Imunisasi MR penting dilakukan pada anak guna cegak penularan campak. (Freepik)
Imunisasi MR penting dilakukan pada anak guna cegak penularan campak. (Freepik)

BATU, RADAR BATU - Lima anak di Kota Batu terkonfirmasi Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) sepanjang Januari-Juni 2026. Rinciannya, tiga kasus campak dan dua pertusis. Temuan tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes). Sebab, penyakit tersebut semestinya dapat ditekan melalui imunisasi dasar lengkap (IDL).

Pemegang Program Imunisasi Dinkes Kota Batu Adi Koesaini mengatakan temuan kasus langsung ditindaklanjuti dengan pelacakan epidemiologi. Penelusuran tidak hanya dilakukan terhadap pasien. Namun, juga orang yang memiliki kontak erat untuk mencegah penyebaran lebih luas. “Ada dua anak terkena pertusis dan tiga anak terkena campak,” ujarnya.

Untuk kasus pertusis, kontak erat mendapatkan profilaksis selama tujuh hari berturut-turut. Sementara, kontak erat dengan pasien campak diberikan vitamin A. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari penanganan dan pencegahan. “Bagi yang kontak erat dengan pasien campak, kami berikan vitamin A untuk pencegahan,” katanya.

Baca Juga: Kafe Kini Tak Cuma Soal Kopi, Pemandangan dan Suasana Jadi Daya Tarik - Radar Batu

Pemantauan kondisi kesehatan juga dilakukan terhadap orang yang memiliki kontak erat. Pasien yang menjalani perawatan turut dipantau. Tujuannya agar potensi penularan bisa segera dikendalikan. Kepala Puskesmas Bumiaji dr Kartini Kristalina mengatakan campak merupakan penyakit yang mudah menular.

Penularan campak terjadi melalui percikan dari saluran pernapasan penderita. Risiko penularan tinggi terjadi menjelang munculnya ruam hingga beberapa hari setelah gejala tersebut terlihat. “Waktu potensi penularan terbesar yaitu empat hari sebelum muncul bintik kemerahan dan empat hari sesudah muncul bintik kemerahan,” jelasnya.

Gejala campak umumnya diawali demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah. Setelah itu, muncul ruam yang biasanya bermula dari wajah atau belakang telinga. Kemudian menyebar ke bagian tubuh lain.

Baca Juga: Game yang Rilis September 2026, Ada Marvel's Wolverine hingga Silent Hill: Townfall - Radar Batu

Kartini menyebut skrining tetap dilakukan untuk menemukan kasus lebih awal. Di Kecamatan Bumiaji, misalnya, terdapat 12 suspek campak dari hasil skrining. Namun, seluruhnya belum dinyatakan positif.

“Kami ada skrining untuk menentukan suspek campak. Dari hasil skrining, di Kecamatan Bumiaji ditemukan 12 suspek, tetapi belum dinyatakan positif,” ujarnya. Masa inkubasi campak umumnya sekitar 7-11 hari.

Kondisi penderita juga sangat dipengaruhi status gizi dan daya tahan tubuh. Pada anak, campak dapat berkembang menjadi komplikasi seperti diare, pneumonia, infeksi telinga, hingga kejang demam. Komplikasi berupa radang otak juga dapat terjadi meski relatif jarang.

Baca Juga: Ingin Menikmati Citylight Kota Batu? Ini 2 Spot dengan Pemandangan dari Ketinggian - Radar Batu

Karena itu, pencegahan tidak hanya dilakukan melalui imunisasi. Kebersihan tangan, etika batuk dan bersin, penggunaan masker ketika sakit, serta menghindari kontak dengan penderita juga penting. Ventilasi rumah perlu dijaga agar sirkulasi udara tetap baik.

Sementara, pertusis atau batuk rejan disebabkan bakteri. Terutama Bordetella pertussis. Penularannya juga terjadi melalui percikan saluran pernapasan saat penderita batuk atau bersin. Kartini menjelaskan pertusis dikenal sebagai “batuk 100 hari”.

Pasalnya, serangan batuk dapat berlangsung lama. Pada tahap awal, gejalanya mirip flu biasa seperti pilek, bersin, demam ringan, dan batuk kering. Selanjutnya batuk dapat berkembang menjadi serangan berat hingga mengganggu pernapasan.

Baca Juga: Kafe Kini Tak Cuma Soal Kopi, Pemandangan dan Suasana Jadi Daya Tarik - Radar Batu

Pertusis dapat ditangani dengan antibiotik. Namun, pencegahan utamanya tetap melalui imunisasi DPT. Setelah sembuh, anak tetap perlu mendapatkan imunisasi sesuai jadwal. Hal itu agar perlindungan terhadap pertusis tetap optimal.

Temuan lima kasus PD3I tersebut menunjukkan bahwa cakupan imunisasi dan deteksi dini masih perlu dijaga. Anak yang belum mendapat imunisasi lengkap memiliki risiko lebih besar terpapar penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.

Karena itu, Dinkes tidak hanya berfokus pada penanganan pasien. Pelacakan kontak, skrining suspek, pemberian terapi pencegahan, serta penguatan imunisasi terus dilakukan untuk memutus rantai penularan.

Lima kasus dalam enam bulan menjadi pengingat bahwa keberhasilan program imunisasi tidak cukup diukur dari capaian cakupan. Setiap anak yang terlewat imunisasi tetap menjadi celah munculnya kasus baru. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
pertusis dinas kesehatan dinkes campak kesehatan