15.075 Warga Kota Batu Berisiko Hipertensi

Ramizard Rafsanjani • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 19:00 WIB
CEK KESEHETAN: Salah seorang peserta peringatan HUT Ke-50 MUI mengakses layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu di Graha Pancasila kemarin (7/8).
CKG GRATIS: Salah seorang lansia mengakses layanan cek kesehatan gratis di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu beberapa waktu lalu.

BATU, RADAR BATU - Skrining kesehatan terhadap 49.647 warga usia 18 tahun ke atas di Kota Batu menunjukkan tingginya risiko hipertensi. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat 30,36 persen atau 15.075 warga memiliki tekanan darah di atas normal.

Rinciannya, 16,19 persen atau 8.038 orang berada pada fase prehipertensi dan 14,17 persen atau 7.037 orang mengalami tekanan darah meningkat. Sementara itu, 64,02 persen atau 34.572 orang masih memiliki tekanan darah normal.

Selain kelompok berisiko, Dinkes juga mencatat 5,61 persen warga telah terdiagnosis hipertensi klinis. Angka tersebut terdiri atas hipertensi sistolik terisolasi 1,71 persen atau 849 orang, hipertensi derajat 1 sebesar 1,49 persen atau 742 orang, derajat 2 sebanyak 1,34 persen atau 666 orang, dan derajat 3 mencapai 1,07 persen atau 532 orang.

Baca Juga: Pemkot Batu Siapkan Skema Permodalan Koperasi Pertanian dan UMKM - Radar Batu

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu dr Icang Sarrazin mengatakan tingginya angka hipertensi perlu menjadi perhatian. Pasalnya, hipertensi sering tidak menimbulkan gejala. “Hipertensi dikenal sebagai silent killer. Penderita sering hanya merasa lelah atau pegal, padahal tekanan darah tinggi perlahan merusak organ-organ vital,” ujarnya.

Menurut Icang, tren hipertensi kini juga bergeser ke kelompok usia produktif. Pola makan tinggi lemak dan garam, kurang aktivitas fisik, serta kebiasaan merokok menjadi faktor utama yang memicu penyumbatan pembuluh darah. Selain itu, juga meningkatkan risiko penyakit jantung maupun stroke.

Untuk mencegah komplikasi, Dinkes Kota Batu rutin menggelar kelas hipertensi di berbagai wilayah. Program tersebut meliputi pemeriksaan tekanan darah, rekam jantung (EKG), senam kesehatan, dan edukasi pola makan rendah garam. Tujuannya agar tekanan darah masyarakat tetap terkontrol di bawah 140/90 mmHg.

Baca Juga: Dishub Ungkap Modus Jukir Nakal di Kota Batu, Pakai Karcis Lama hingga Mabuk Saat Bertugas - Radar Batu

Pakar Jantung sekaligus Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr dr Mohammad Saifur Rohman SpJP(K) PhD menambahkan keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada kedisiplinan pasien menjaga pola hidup. “Banyak pasien yang sudah dipasang ring jantung kembali mengonsumsi makanan berkolesterol tinggi,” ujarnya.

Kondisi itu meningkatkan risiko serangan berulang, menurunkan kualitas hidup, dan membebani pembiayaan BPJS. Ia mengingatkan konsumsi garam berlebih menjadi salah satu musuh utama penderita hipertens. Sebab, dapat memicu kenaikan tekanan darah.

Editor : Fajar Andre Setiawan
Skrining Kesehatan Pola Hidup Sehat hipertensi dinkes kota batu cek kesehatan gratis