BATU, RADAR BATU – Akademisi Departemen Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya (UB) Eva Putri Arfiani mengingatkan bahwa bantuan makanan tambahan tidak cukup untuk mengatasi stunting.
Menurutnya, PMT hanya memenuhi sekitar 30–35 persen kebutuhan gizi harian balita. Sisanya bergantung pada pola makan keluarga, sanitasi lingkungan, akses air bersih, dan pola pengasuhan.
"Sejak dalam kandungan sampai usia dua tahun, standar gizi harus benar-benar dipenuhi sesuai kebutuhan masing-masing tahap pertumbuhan," ujarnya.
BACA JUGA: Tren Wisata Estetik, Rumah Kaca di Batu Jadi Incaran Konten Kreator
Eva menjelaskan periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase paling menentukan bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak. Kekurangan gizi pada masa tersebut dapat menimbulkan dampak jangka panjang.
Ia juga menyarankan keluarga menggunakan ukuran peralatan rumah tangga sebagai panduan sederhana dalam menentukan porsi makan anak agar lebih mudah diterapkan.
BACA JUGA: Jalan Hasanudin Kota Batu Ditutup Total, Ini Rute Alternatifnya
Menurut Eva, sanitasi menjadi faktor yang tidak kalah penting dibanding asupan makanan.
"Percuma asupan gizinya sudah baik kalau sanitasinya buruk. Anak akan lebih mudah terserang penyakit sehingga berat badannya kembali turun dan pertumbuhannya terganggu," tegasnya.
Pendapat tersebut sejalan dengan strategi baru Pemkot Batu yang kini menggabungkan intervensi gizi, pelayanan kesehatan, edukasi keluarga, dan perbaikan sanitasi sebagai satu paket penanganan stunting. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan