Stunting Kota Batu Turun, Pemkot Akui PMT Hanya Penuhi 35 Persen Kebutuhan Gizi Balita

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:30 WIB
CEGAH STUNTING: Sejumlah ibu dan anak hadir dalam kegiatan Posyandu di Desa Oro-Oro Ombo beberapa waktu lalu.
CEGAH STUNTING: Sejumlah ibu dan anak hadir dalam kegiatan Posyandu di Desa Oro-Oro Ombo beberapa waktu lalu.

 

BATU, RADAR BATU – Pemerintah Kota Batu mengubah strategi penanganan stunting setelah menyadari bantuan pangan berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) hanya mampu memenuhi sekitar 30–35 persen kebutuhan gizi harian balita berisiko stunting.

Wali Kota Batu Nurochman mengatakan penanganan stunting tidak lagi bertumpu pada pembagian bantuan makanan semata. Pemkot kini memperkuat layanan kesehatan berbasis desa melalui Unit Pelayanan Kesehatan Desa dan Kelurahan (UPKDK).

BACA JUGA: Posyandu di Kota Batu Berhasil Capai Zero Stunting, Begini Strategi Para Kader

"Sudah ada 16 dokter yang kami terjunkan. Ke depan jumlahnya akan kami lengkapi secara bertahap agar seluruh wilayah mendapat pelayanan yang merata," ujarnya.

Selain dokter, bidan di setiap puskesmas diperkuat untuk melakukan pendampingan ibu hamil, pemantauan tumbuh kembang balita, hingga edukasi gizi keluarga.

Pemkot juga tetap mengalokasikan bantuan pangan berupa susu, telur, dan sumber protein lainnya bagi ibu hamil serta balita berisiko stunting. Namun, bantuan tersebut diposisikan sebagai stimulus, bukan solusi utama.

BACA JUGA: Dinkes Batu Fokus Cegah Stunting Sejak Kehamilan, Ibu Hamil KEK Jadi Prioritas

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu Aditya Prasaja menegaskan faktor terbesar yang menentukan keberhasilan pencegahan stunting justru berasal dari pola asuh, sanitasi, dan pemenuhan gizi keluarga setiap hari.

Karena itu, pemerintah mengembangkan Program Kelas Pos Gizi Penanganan Stunting (Pozting) yang memberikan pendampingan intensif kepada bayi di bawah usia dua tahun selama sekitar 10 pekan.

Melalui program tersebut, peserta memperoleh pemeriksaan kesehatan, pemantauan pertumbuhan, edukasi ASI eksklusif, hingga praktik pemberian makan bayi dan anak. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
kesehatan anak pozting upkdk stunting pemkot batu