Prevalensi Stunting Kota Batu Turun Jadi 10 Persen, Pemkot Kejar Target Satu Digit

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 14:30 WIB
CEGAH STUNTING: Sejumlah ibu dan anak hadir dalam kegiatan Posyandu di Desa Oro-Oro Ombo beberapa waktu lalu.
CEGAH STUNTING: Sejumlah ibu dan anak hadir dalam kegiatan Posyandu di Desa Oro-Oro Ombo beberapa waktu lalu.

 

BATU, RADAR BATU – Angka prevalensi stunting di Kota Batu terus menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes), prevalensi stunting turun dari 11,8 persen pada 2024 menjadi 10,49 persen pada 2025, dan kini berada di kisaran 10 persen pada 2026.

Meski penurunannya belum signifikan, Pemkot Batu optimistis target prevalensi di bawah 10 persen dapat tercapai dalam waktu dekat.

BACA JUGA: Tren Wisata Estetik, Rumah Kaca di Batu Jadi Incaran Konten Kreator

Kepala Dinkes Kota Batu Aditya Prasaja mengatakan tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar menurunkan angka stunting, tetapi mencegah munculnya kasus baru.

"Sekarang penurunannya lebih lambat karena terjadi fenomena lulus 10 masuk 10," ujarnya.

Menurut Aditya, kondisi ideal adalah jumlah balita yang berhasil keluar dari kategori stunting jauh lebih banyak dibandingkan balita yang baru masuk kategori tersebut. 

BACA JUGA: Jalan Hasanudin Kota Batu Ditutup Total, Ini Rute Alternatifnya

Karena itu, strategi penanganan kini difokuskan pada deteksi dini gangguan pertumbuhan (faltering growth) sebelum anak benar-benar mengalami stunting.

Pemkot berharap pendekatan pencegahan tersebut mampu mempercepat penurunan prevalensi hingga berada di bawah 10 persen. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
kesehatan anak prevalensi stunting tren penurunan kota batu