BATU, RADAR BATU - Mikroplastik yang mencemari Sungai Brantas tidak hanya mengancam ekosistem perairan, tetapi juga berpotensi masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan.
Guru Besar Biokonservasi dan Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Islam Malang (Unisma) Prof Husein Latuconsina mengatakan akumulasi mikroplastik dapat berpindah dari organisme kecil ke ikan, kemudian dikonsumsi manusia. Proses tersebut dikenal sebagai biomagnifikasi.
"Pada akhirnya, manusia memakan sampah yang dibuangnya sendiri," ujarnya. Menurut Husein, pencemaran yang terus berlangsung akan mengubah keseimbangan ekosistem sungai.
BACA JUGA: Gerakan Ayah Antar Anak Warnai Hari Pertama MPLS
Biota yang sensitif terhadap pencemaran akan menghilang, sementara mikroorganisme anaerob berkembang sehingga memunculkan gas hidrogen sulfida yang menyebabkan bau tidak sedap.
Ia menjelaskan kualitas sungai sebenarnya dapat dikenali dari jenis ikan yang hidup di dalamnya.
Sungai yang masih sehat umumnya dihuni ikan wader, tombro, maupun ikan mas.
BACA JUGA: Peringati Hari Koperasi Nasional ke-79, Prabowo Optimis Indonesia Akan Bangkit
Sebaliknya, apabila populasi didominasi ikan sapu-sapu dan lele, kualitas air patut dicurigai telah mengalami penurunan.
Selain mengganggu ekosistem, mikroplastik juga mengandung senyawa seperti Bisphenol A (BPA) dan ftalat yang dikaitkan dengan gangguan hormon, penurunan kesuburan, gangguan sistem reproduksi, hingga meningkatnya risiko berbagai penyakit kronis.
BACA JUGA: Terima Ancaman Ledakan Bom, MPLS di SDN Jagakarsa Jakarta Selatan Langsung diselesaikan
Pakar Ekologi Perairan Unisma Hamdani Dwi Prasetyo menambahkan pengendalian pencemaran harus dibarengi penegakan baku mutu air serta pemanfaatan tanaman air Vallisneria sebagai media fitoremediasi untuk membantu menyerap pencemar organik.
Menurutnya, keberlangsungan Kota Batu sangat bergantung pada kualitas kawasan hulunya.
"Alam adalah modal utama Batu. Sungai jangan dijadikan tempat sampah," pungkasnya. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan