Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Debu Kering dan Suhu Beku Picu Lonjakan Penyakit Pernapasan di Kota Batu

Rori Dinanda Bestari • Minggu, 14 Juni 2026 | 18:00 WIB
DETEKSI DINI: Salah seorang warga lansia menjalani skrining kesehatan beberapa waktu lalu.
DETEKSI DINI: Salah seorang warga lansia menjalani skrining kesehatan beberapa waktu lalu.

 

BATU, RADAR BATU - Lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan mengintai warga Kota Batu. Hal itu seiring ekstremnya penurunan suhu udara harian dan pekatnya partikel debu kering di ruang publik sejak memasuki Juni. Fenomena musiman bediding yang sejalan dengan tingginya mobilitas luar ruangan memicu kerentanan massal terhadap penularan virus serta kekambuhan penyakit bawaan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dr Icang Sarrazin mengungkapkan tren gangguan kesehatan di musim dingin ini didominasi influenza, alergi, hingga infeksi akut. “Saat ini, banyak yang terjangkit influenza atapun flu biasa,” jelasnya.

BACA JUGA: Selisih Harga Konsumen Apel Tembus Rp 30 Ribu per Kg, Digempur Penyakit, Kelompok Tani Apel Sisa 25 Persen

Meski bergejala ringan, gangguan pada saluran pernapasan tersebut tidak boleh diremehkan. Ancaman terbesar pada musim kemarau ini bukan sekadar infeksi virus, melainkan partikel debu kering yang beterbangan bebas di udara. Risiko keparahan menjadi berkali lipat bagi warga yang memiliki riwayat alergi tinggi.

Icang menyebut masalah pernapasan selama musim bediding tergolong kompleks. Selain influenza, warga juga dihantui ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, hingga faringitis atau radang tenggorokan.

BACA JUGA: Profil Folarin Balogun, Striker AS yang Borong Dua Gol ke Gawang Paraguay

Faringitis kerap muncul sebagai dampak lanjutan dari iritasi kronis akibat tenggorokan menghirup udara kering berdebu. Gejala spesifiknya ditandai dengan rasa sakit saat menelan, suara serak, dan kerongkongan yang terasa kering menyengat.

Bahaya laten juga mengintai kelompok penderita asma dan alergi kulit. Kelompok ini dinilai jauh lebih rentan mengalami serangan fatal akibat paparan kombinasi udara dingin dan debu.

“Udara malam yang lebih dingin dan lembap dapat memicu serangan asma dan memperparah gejala alergi kulit,” urainya.

BACA JUUGA: Nanik S. Deyang Bantah Narasi Viral Terkait Aliran Keuntungan Program MBG ke Presiden

Untuk menekan laju kasus, masyarakat diimbau untuk kembali mendisiplinkan penggunaan masker, terutama saat beraktivitas di jalan raya atau pusat keramaian. Masker menjadi filter fisik paling sederhana yang efektif menyaring polutan sebelum merusak saluran pernapasan.

Selain proteksi eksternal, penguatan imunitas melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta olahraga rutin menjadi benteng pertahanan utama. Aktivitas fisik secara konsisten dinilai penting untuk menjaga stabilitas metabolisme tubuh, sehingga produksi antibodi untuk menghalau bakteri dan virus dapat berjalan optimal. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#waspada penyakit pernapasan #dampak bediding #kota batu