Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

300 Pelajar di Kota Batu Jalani Skrining Jantung Rematik

Rori Dinanda Bestari • Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:00 WIB
DETEKSI DINI: Sejumlah siswa sekolah dasar menjalani skrining penyakit jantung rematik di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani kemarin (29/5). Deteksi dini dipacu guna mencegah kerusakan katup jantung permanen akibat infeksi bakteri.
DETEKSI DINI: Sejumlah siswa sekolah dasar menjalani skrining penyakit jantung rematik di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani kemarin (29/5). Deteksi dini dipacu guna mencegah kerusakan katup jantung permanen akibat infeksi bakteri.

 

BATU, RADAR BATU - Sebanyak 300 siswa kelas 5 dan 6 SD menjalani skrining penyakit jantung rematik (PJR) massal yang dilakukan Yayasan Jantung Indonesia (YJI) di Gedung Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani kemarin (29/5). Skrining ini menjadi langkah preventif sebagai intervensi medis proaktif yang bertujuan memutus rantai kerusakan organ di masa depan.

Ketua Bidang Medis YJI dr BRM Ario Soeryo Kuncoro Sp.JP(K) mengatakan alasan klinis pemilihan kelompok usia anak pada fase akhir SD itu bertujuan untuk memburu tanda-tanda gejala ringan yang kerap tidak disadari. “Tujuan utama kami melakukan intervensi sejak dini, menjaring potensi kasus sebelum kondisinya memburuk,” terangnya.

BACA JUGA: Pengasuh Ditangkap karena Kasus Pencabulan, Pondok Pesantren di Pekalongan ternyata Tidak Terdaftar

Sebab, Ario menyebut publik kerap terkecoh oleh gejala awal PJR. Ancaman kronis ini nyatanya berakar dari masalah kesehatan sederhana, yakni infeksi radang tenggorokan berulang yang tidak tertangani secara tuntas. Selain tenggorokan, sinyal bahaya juga kerap muncul di area ekstremitas.

“Gejala awalnya bisa berupa nyeri sendi yang berpindah-pindah tempat, kerap disertai pembengkakan,” papar Ario. Dampak jangka panjang dari demam rematik inilah yang menjadi momok di dunia medis. Jika bakteri terus dibiarkan berkembang biak tanpa pengobatan standar, maka ia akan menggerogoti katup jantung secara perlahan.

BACA JUGA: Tren Tote Bag di Kalangan Pelajar, Bagaimana Dampaknya?

Ujungnya, anak akan mengalami kecacatan anatomi jantung permanen saat beranjak dewasa. Proses skrining maraton di Graha Pancasila berjalan komprehensif. Berdasarkan hasil skrining, kondisi kesehatan anak-anak di Kota Batu masih terkendali. “Tim kami belum menemukan adanya indikasi PJR positif,” ungkapnya.

Kendati begitu, setiap anak yang kelak menunjukkan gejala suspek akan langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan. Sinergi medis ini mendapat atensi dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batu. Alfi Nurhidayat, sang kepala dinas menilai skrining jantung massal ini bukan sekadar rutinitas medis, melainkan investasi sumber daya manusia berjangka panjang.

BACA JUGA: 13 Perempuan Mengidap Kanker Serviks

Daya serap akademik seorang anak mustahil dioptimalkan tanpa sokongan fisik yang prima.

“Apalagi usia SD merupakan masa keemasan sekaligus paling rentan terhadap serangan bakteri pencetus gangguan katup jantung,” tegas Alfi. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#YJI #skrining jantung rematik massal #kota batu #Siswa SD Ujian