Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

13 Perempuan Mengidap Kanker Serviks

Rori Dinanda Bestari • Jumat, 29 Mei 2026 | 15:00 WIB
Illustrasi Perempuan Mengidap Kanker Serviks (Freepik
Illustrasi Perempuan Mengidap Kanker Serviks (Freepik)

BATU, RADAR BATU - Jumlah pengidap kanker serviks aktif di Kota Batu terus meningkat. Hingga Mei tahun ini, penderitanya mencapai 13 pasien. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mencatat tren mematikan ini didominasi kelompok usia produktif. Alasannya, mayoritas dari mereka terlambat mendapatkan intervensi medis akibat salah mengidentifikasi gejala awal.

Selain itu, pasien juga sering mengabaikan anomali pada organ reproduksi dan ketakutan meng hadapi diagnosis medis. Padahal, itu juga bisa mempercepat penyebaran penyakit mematikan di kalangan perempuan. Fenomena penyimpangan klinis ini tergambar dari melonjaknya akumulasi jumlah penderitanya.

Dinamika grafik penyakit ini menunjukkan pergerakan yang mengkhawatir kan dalam dua tahun terakhir. Sepanjang tahun 2025 lalu, ditemukan 10 kasus positif dengan satu pasien di antaranya dilaporkan meninggal dunia. Tahun ini, serangan kanker leher rahim tersebut meluas dengan ditemukannya empat pasien baru di faskes daerah.

Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu dr Icang Sarrazin membeberkan rentetan pemicu kanker patologis ini. Secara ilmiah, kanker serviks dipicu infeksi Human Papillomavirus (HPV) tipe 16 dan 18. Penularannya banyak terjadi melalui aktivitas hubungan seksual.

Faktor risiko akan meningkat berlipat ganda pada wanita dengan riwayat multipara atau telah melahirkan berkali-kali. "Faktor genetika atau garis keturunan dari ibu yang mengidap kanker juga memperbesar probabilitas keterpaparan pada anak," jelas Icang.

Ironisnya, pertumbuhan sel abnormal hasil mutasi gen ini sering kali tidak disadari. Mayoritas penderita kerap menyalahartikan sinyal bahaya tubuh sebagai indikasi kelelahan biasa atau sekadar gangguan siklus menstruasi bulanan.

Padahal, tubuh memberikan tanda-tanda spesifik. Di antaranya pendarahan tidak normal di luar siklus haid, munculnya bercak darah pascasenggama, hingga siklus menstruasi yang mendadak lebih panjang dan deras.

Baca Juga: Deteksi Dini Kanker Masih Minim Skrining di Kota Batu Ditarget Sasar 1.300 Perempuan Tahun Ini

Gejala lain yang patut diwaspadai adalah keputihan tidak wajar yang berbau menyengat atau berwarna kecoklatan, serta rasa nyeri hebat di area panggul saat berhubungan intim. Keterlambatan merespons gejala itu berakibat fatal pada penurunan harapan hidup pasion.

Momentum emas pengobatan hanya berada pada Stadium 1, di mana peluang sembuh total secara medis masih terbuka lebar. Memasuki Stadium 2, persentase kesembuhan merosot ke angka 70 hingga 80 persen. Angka survival ini kian terjun bebas pada Stadium 3 yang hanya menyisakan peluang 50 hingga 60 persen.

"Kondisi menjadi sangat pelik jika pasien baru datang pada Stadium 4. Sel kanker telah bermetastasis ke organ vital lain, sehingga tindakan medis hanya bersifat paliatif atau meredakan nyeri," papar Icang.

Baca Juga: 56 Perempuan di Kota Batu Mengidap Kanker Payudara

Zona merah serangan kanker reproduksi ini menyasar kelompok usia matang. Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu Aditya Prasaja menyebut kerentanan dimulai pada perem puan di atas usia 30 tahun. Sementara itu, puncak sebaran kasus paling masif menjerat kelompok usia 45 hingga 54 tahun.

Menyikapi lonjakan kasus pada tahun 2026 ini, Adit mengambil langkah agresif dengan memperluas cakupan deteksi dini di lapangan. Senjata utama yang digerakkan adalah fasilitasi metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA).

Selain itu, pap smear juga digalakkan di seluruh puskesmas secara gratis. "Kanker ini tidak menular tetapi mematikan jika abai. Kuncinya adalah hilangkan rasa takut dan rutin skrining sejak dini," tegas Aditya. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#IVA #dinkes #kota batu #hpv