BATU - Pemerintah Kota Batu mulai mengevaluasi program keluarga berencana (KB) menyusul tren penurunan jumlah peserta dalam setahun terakhir.
Meski demikian, pola penggunaan metode kontrasepsi menunjukkan kecenderungan positif. Metode KB modern masih menjadi pilihan utama masyarakat.
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan KB DP3AP2KB Kota Batu Sintinche Agustina Pamungkas menyebutkan, metode implan menjadi yang paling diminati.
“Implan banyak dipilih karena praktis, fleksibel, dan berisiko rendah. Bisa dilepas kapan saja jika ingin kembali memiliki anak,” jelasnya.
Baca Juga: Kenapa Warga Batu Mulai Tinggalkan KB? Dari Ingin Tambah Anak hingga Tren Childfree
Ia menambahkan, mayoritas pengguna KB berasal dari kelompok usia 20 hingga 40 tahun, dengan jumlah anak satu hingga dua orang.
Penggunaan metode modern dinilai lebih efektif dibandingkan metode tradisional, sehingga tetap menjadi andalan dalam program pengendalian penduduk.
Di sisi lain, pemerintah daerah memastikan layanan KB telah tersedia secara luas. Mulai rumah sakit hingga bidan desa dilibatkan untuk menjangkau masyarakat hingga wilayah terpencil.
Baca Juga: Peserta KB di Kota Batu Turun 761 Setahun, Tren Berlanjut hingga 2026 Tinggal 25.231 Aksept
Dengan jumlah pasangan usia subur (PUS) mencapai 35.703 pasangan, tingkat partisipasi KB saat ini berada di kisaran 70 persen.
Meski masih relatif tinggi, penurunan jumlah peserta menjadi perhatian serius. Evaluasi dan penguatan strategi akan terus dilakukan agar program tetap tepat
Baca Juga: Partisipasi KB Turun 761 Peserta dalam Setahun Faktor Sosial hingga Preferensi Anak Jadi Pemicu sasaran.
“Kami pastikan program KB tetap berjalan sesuai tujuan, yakni membentuk keluarga kecil yang berkualitas,” tegasnya. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho