Pada Januari 2025, peserta KB aktif tercatat 26.194 orang. Angka itu turun bertahap menjadi 25.515 pada Desember tahun lalu. Tren penurunan berlanjut pada 2026, dari 25.433 peserta di Januari menjadi 25.231 pada Maret. Kepala DP3AP2KB Kota Batu Heru Yulianto menyebut penurunan ini berlangsung konsisten sejak tahun lalu.
“Maret 2026 tinggal 25.231 peserta. Artinya, tren penurunan memang berulang,” ujarnya. Secara keseluruhan, jumlah pasangan usia subur (PUS) di Kota Batu mencapai 35.703 pasangan. Tingkat partisipasi KB masih berada di kisaran 70 persen.
Heru menjelaskan penurunan dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya keputusan pasangan menghentikan KB karena ingin menambah anak, faktor kematian, hingga pengaruh sosial budaya. “Masih ada pandangan tertentu yang membuat pasangan enggan menggunakan kontrasepsi,” katanya.
Baca Juga: Ada Ratusan Peserta KB Baru di Kota Batu Tiap Bulan, 265 Pasutri Ikut Program Dua Anak Lebih Sehat
Ia memastikan, penurunan bukan disebabkan keterbatasan akses layanan. Fasilitas kesehatan, mulai rumah sakit hingga bidan desa, telah bekerja sama menyediakan layanan KB hingga wilayah terpencil.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan KB DP3AP2KB Kota Batu Sintinche Agustina Pamungkas menyebut metode implan menjadi pilihan terbanyak. Metode ini dinilai praktis, fleksibel, dan berisiko rendah.
“Implan bisa dilepas sewaktu-waktu jika ingin kembali memiliki anak,” jelasnya. Penggunaan metode KB modern juga lebih dominan dibandingkan metode tradisional karena dianggap lebih efektif. Mayoritas pengguna berasal dari kelompok usia 20-40 tahun dengan satu hingga dua anak.
Baca Juga: Program Satu Desa Satu Dokter di Kota Batu Baru Menjangkau 16 Wilayah
Menurut Iche, penurunan partisipasi menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Evaluasi dan upaya peningkatan terus dilakukan karena program KB berperan penting dalam pengendalian penduduk.zan
Di sisi lain, dinamika sosial baru juga mulai memengaruhi pola pikir generasi muda. Isu seperti childfree dan kekhawatiran membangun keluarga turut menjadi tantangan baru dalam menjaga keberlanjutan program. “Kami pastikan program tetap tepat sasaran dan sesuai tujuan, yakni membentuk keluarga kecil berkualitas,” tegasnya. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho