Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

56 Perempuan di Kota Batu Mengidap Kanker Payudara

Fajar Andre Setiawan • Kamis, 5 Februari 2026 | 09:13 WIB
Ilustrasi. Jenis-jenis kanker yang mudah menjangkit orang di usia 20-30. (freepik.com)
Ilustrasi. Jenis-jenis kanker yang mudah menjangkit orang di usia 20-30. (freepik.com)

BATU - Ancaman kanker pada organ reproduksi perempuan masih menjadi persoalan serius di Kota Batu. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat, dalam rentang 2024 hingga awal 2026, terdapat 56 kasus kanker payudara, enam kasus kanker serviks, serta tiga kasus kanker ovarium. Angka tersebut menegaskan kanker payudara masih mendominasi temuan penyakit ganas pada perempuan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Batu, dr. Susana Indahwati, menilai tingginya angka tersebut tak lepas dari persoalan klasik. Yakni keterlambatan deteksi dan penanganan medis. Banyak pasien baru mendatangi fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah memasuki stadium lanjut.

“Kanker payudara dan serviks sering kali tidak menimbulkan rasa sakit pada fase awal. Pasien merasa sehat, padahal sel abnormal sudah tumbuh,” ujar Susana. Pada kanker payudara, gejala awal yang paling sering muncul adalah benjolan di payudara atau ketiak. Benjolan itu umumnya keras, tidak rata, tidak nyeri saat ditekan, dan tidak menghilang setelah siklus haid berakhir.

Grafis Kanker Serviks dan Kanker Payudara di Kota Batu 2026
Grafis Kanker Serviks dan Kanker Payudara di Kota Batu 2026

Selain itu, perubahan bentuk payudara, kulit berkerut menyerupai kulit jeruk, puting tertarik ke dalam, atau keluarnya cairan tidak normal juga menjadi tanda yang patut diwaspadai.

“Masalahnya, banyak yang mengabaikan tanda-tanda ini karena tidak menimbulkan nyeri,” imbuhnya.

Jika kanker sudah memasuki stadium lanjut, kondisi pasien jauh lebih kompleks. Luka pada payudara sulit sembuh, nyeri tulang, sesak napas, hingga penurunan berat badan drastis tanpa sebab jelas kerap dialami pasien. “Pada tahap ini, pengobatan menjadi lebih berat dan peluang sembuh menurun tajam,” tegas Susana.

Sementara itu, kanker leher rahim atau serviks juga menjadi perhatian serius. Penyakit ini disebabkan infeksi Human Papillomavirus (HPV). Khususnya tipe 16 dan 18 yang umumnya ditularkan melalui hubungan seksual. Berbeda dengan kanker payudara, kanker serviks nyaris tanpa gejala pada fase awal dan sering baru terdeteksi melalui pemeriksaan IVA atau pap smear.

“Gejala biasanya baru muncul ketika penyakit sudah berkembang, seperti perdarahan di luar siklus haid atau nyeri saat berhubungan seksual,” jelasnya. Dari sisi peluang kesembuhan, perbedaan stadium sangat menentukan. Pada kanker payudara stadium awal, peluang sembuh bisa mencapai 90-95 persen.

Namun, pada stadium empat, terapi umumnya bersifat paliatif untuk mengendalikan gejala dan kualitas hidup pasien. Hal serupa berlaku pada kanker serviks, di mana temuan pra-kanker memungkinkan pemulihan cepat. Sementara stadium lanjut menurunkan harapan hidup secara signifikan.

Kepala Dinkes Kota Batu, Aditya Prasaja, menambahkan kanker bukan penyakit menular. Namun, prevalensinya di Indonesia tergolong tinggi. Berdasarkan data global, kanker reproduksi masih menjadi penyebab kematian utama perempuan.

“Kelompok paling berisiko adalah perempuan di atas 30 tahun, dengan puncak usia 45 hingga 54 tahun, terutama yang memiliki riwayat melahirkan berkali-kali,” ujarnya. Minimnya gejala awal, kata Aditya, membuat deteksi dini menjadi kunci utama. Pemeriksaan rutin seperti SADARI, IVA, dan pap smear dinilai krusial untuk menekan angka keterlambatan diagnosis dan meningkatkan peluang kesembuhan. (ori/dre)

Editor : Aditya Novrian
#kanker #dinkes #kota batu #hpv