BATU - Car free day (CFD) Mbatu Sae tidak hanya menjadi ruang olahraga warga. Gelaran itu juga menghadirkan ragam kuliner, termasuk menu sehat kukusan polo pendem yang belakangan diminati pengunjung.
Salah satu penjualnya, Yulianto, baru dua bulan membuka lapak kukusan di area CFD. Ia sengaja memilih menjual umbi-umbian rebus untuk menghadirkan opsi makanan rendah minyak di tengah dominasi gorengan.
“Kukusan lebih sehat karena bebas minyak. Lagipula di sini sudah banyak yang jual gorengan,” ujarnya kemarin (30/11). Yulianto menyediakan delapan varian polo pendem yakni singkong, ubi ungu, ubi cilembu, jagung, pisang, sukun, labu, dan talas.
Tak hanya menjual, ia juga memberi edukasi singkat mengenai manfaat tiap jenis umbi kepada pembeli. “Ubi ungu, misalnya, mengandung antioksidan yang membantu mengurangi peradangan dan meningkatkan daya tahan tubuh,” katanya.
Ia mengaku kerap menerima keluhan ringan dari pengunjung dan membantu memilihkan varian yang sesuai kebutuhan. Transaksi pun sering berubah menjadi percakapan edukatif antara penjual dan pembeli.
Harga kukusan Yulianto cukup terjangkau. Ia menyediakan dua paket yakni Rp5 ribu untuk tiga jenis kukusan dan Rp10 ribu untuk enam varian sekaligus. Menurutnya, polo pendem rebus tidak lagi identik dengan makanan orang tua.
Anak muda mulai banyak yang mencari karena dinilai lebih sehat, murah, dan mengenyangkan. “Sekarang banyak anak muda yang nyoba. Paket lengkap yakni sehat, enak, dan bikin kenyang,” tuturnya.
Daya tarik lain ada pada penyajiannya. Uap panas yang mengepul saat panci kukusan dibuka kerap menjadi panggilan alami bagi pengunjung CFD. Dya Ayu, warga Kelurahan Sisir, mengaku mampir usai mengikuti senam zumba karena mencari menu diet sehat.
“Polo pendem ini saya jadikan pengganti karbohidrat. Efeknya mulai terasa, berat badan turun dan badan nggak gampang ngantuk,” katanya. Menurutnya, kukusan umbi cocok disantap setelah olahraga karena ringan tapi tetap memberi energi.
Popularitas kukusan polo pendem di CFD Mbatu Sae memperlihatkan meningkatnya minat warga terhadap kuliner lokal yang sehat. Di tengah maraknya makanan cepat saji, pilihan sederhana seperti umbi kukus kembali mendapat tempat. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho