BATU - Target Pemerintah Kota (Pemkot) Batu dalam menekan angka prevalensi stunting cukup besar. Setelah berhasil menurunkan prevalensi stunting menjadi 10,49 persen tahun ini, pada 2026 pemerintah menarget angkanya turun lagi jadi delapan persen.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, jumlah anak pengidap stunting terus turun. Berdasar data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) kepada Dinas Kesehatan (Dinkes), tercatat 175 balita yang telah berhasil lulus dari stunting.
Administrator Ahli Muda Dinkes Kota Batu Emi Kusrilowati menyampaikan salah satu upaya penting dalam memerangi stunting yakni memutus rantai bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) dan risiko mengalami stunting.
Hal itu dilakukan dengan memberikan pendampingan, edukasi, dan pemantauan kesehatan berkelanjutan kepada ibu hamil. Khususnya bagi ibu hamil dengan kekurangan energi kronik (KEK) atau risiko tinggi.
Di antaranya melalui Kelas Bumil Sehat Cegah Ancaman Risiko Tinggi Kehamilan (Kemis Cantik). Program tersebut menjadi langkah dini pengurangan risiko kelahiran bayi dengan potensi stunting.
Dalam setiap pertemuan, para peserta mendapatkan pemeriksaan langsung oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Sp.OG) dan edukasi terkait gizi makanan, senam yoga ibu hamil, hingga penyuluhan kesehatan ibu dan anak yang dikemas menarik dan praktis.
Para ibu hamil juga diajarkan mengolah makanan bergizi seimbang dengan bahan sederhana melalui kelas memasak pangan olahan keperluan medis khusus (PKMK). Resep masakannya disesuaikan dengan anjuran dokter spesialis anak.
“Kandungan gizi tidak hanya penting untuk ibu hamil tapi juga anak,” jelas Emi. Ibu hamil risiko tinggi atau KEK juga mendapatkan layanan pengukuran lingkar lengan atas (LILA), tinggi fundus uteri, tekanan darah, serta tes darah dan urin di laboratorium dari Puskemas.
Selain itu, juga ada pemeriksaan jantung janin, konseling, pemberian tablet tambah darah (TTD), dan skrining lainnya secara gratis. Emi mengaku rutin mendistribusikan bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal untuk ibu hamil.
Biasanya, jenis yang disalurkan berupa biskuit dan susu khusus ibu hamil. Makanan tersebut dipastikan dapat menambah asupan gizi baik berupa zat gizi makro maupun mikro. “Sehingga, bayi bisa lahir dengan berat badan ideal,” ujarnya.
Dirinya menyebut target penurunan angka stunting tahun depan hanya berkisar 11,75 persen. Menurutnya, target penurunan tidak begitu signifikan mengingat tingginya potensi fluktuasi kasus yang menghambat kelulusan bayi stunting. “Jika sesuai rencana strategis masih kecil, harapannya tentu bisa lebih rendah,” tegasnya.
Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto mengaku optimistis bisa menurunkan angka prevalensi stunting menjadi 8 persen tahun depan. Dirinya menilai capaian stunting di Kota Batu lebih rendah dari angka rata-rata Jatim sebesar 14,9 persen dan nasional sebesar 21,5 persen.
“Bahkan kami juga baru saja memperoleh penghargaan insentif fiskal senilai Rp5,56 miliar dalam kategori Percepatan Penurunan Stunting dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI,” paparnya. Penghargaan tersebut akan digunakan untuk memperkuat kapasitas kinerja.
Khususnya dalam peningkatan program gizi dan layanan bagi ibu dan anak. Sebagai contoh, optimalisasi peran kader dan posyandu di desa dan kelurahan konsisten menjadi garda terdepan penanganan stunting.
Selain itu, kolaborasi lintas sektor, mulai dari tenaga kesehatan, kader Posyandu, hingga dukungan masyarakat juga menjadi andil penting dalam pencapaian target yang ada. “Kalau sinergi berjalan optimal, penurunan stunting bisa ditekan lebih besar,” tandasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho