Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Perokok Usia Remaja di Kota Batu Rawan Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Fajar Andre Setiawan • Jumat, 7 November 2025 | 16:00 WIB
Grafis Dampak Kesehatan bagi Perokok Usia Remaja
Grafis Dampak Kesehatan bagi Perokok Usia Remaja

BATU - Lonjakan jumlah perokok remaja di Kota Batu mulai menimbulkan kekhawatiran serius. Dinas Kesehatan (Dinkes) mengingatkan kebiasaan merokok sejak usia muda berpotensi besar memicu Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan berbagai gangguan pernapasan lainnya.

Berdasarkan data Dinkes menunjukkan jumlah remaja aktif merokok di Kota Batu pada 2024 mencapai 763 orang. Angka ini melonjak tajam dibanding tahun sebelumnya, yang hanya 270 remaja. Artinya, ada kenaikan hampir tiga kali lipat dalam setahun terakhir.

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu, dr. Susana Indahwati menegaskan paparan asap rokok di usia muda berdampak langsung pada kerusakan paru.

“Remaja yang merokok berisiko tinggi mengalami bronkitis kronis hingga PPOK,” ujarnya. Penyakit itu menyebabkan penyempitan saluran napas secara permanen. Sementara bronkitis kronis ditandai dengan batuk berdahak yang terus-menerus akibat peradangan.

“Jika tidak segera berhenti merokok maka kerusakan paru-paru bisa menjadi permanen,” tambahnya. Rokok juga memengaruhi fungsi otak remaja. Sebab, nikotin dan karbon monoksida bisa menurunkan kadar oksigen dalam darah.

Hal itu bisa mengganggu konsentrasi dan memicu perilaku impulsif. “Dampaknya bukan hanya fisik tapi juga psikis. Anak jadi sulit fokus dan suasana hatinya mudah berubah-ubah,” papar Susana.

Sementara itu, Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinkes Jawa Timur, Citra Ervina Ahiyanasari menyoroti bahaya perokok pasif. Ia menyebut tujuh dari sepuluh anak di Indonesia terpapar asap rokok di rumah dan tempat umum.

“Bahkan 5,5 persen kasus stunting di Indonesia disebabkan orang tua yang merokok,” ungkapnya. Citra menambahkan kebiasaan merokok juga menjadi penyebab kematian tertinggi kedua di Indonesia.

Untuk itu intervensi dini di usia remaja sangat penting. “Remaja lebih mudah diarahkan untuk berhenti dibandingkan orang dewasa. Setiap menit berhenti merokok memberi manfaat besar bagi tubuh,” jelasnya.

Sebagai contoh, setelah 20 menit berhenti merokok, tekanan darah dan denyut nadi akan kembali normal. Dalam 12 jam, kadar karbon monoksida dalam darah turun ke batas wajar.

Kini ada layanan yang dibuka pemerintah untuk pendampingan agar berhenti merokok.

Layanan itu dibuka melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga). Konselor Puspaga Kota Batu, Lovita Siregar mengungkapkan baru dua remaja yang mengajukan konseling untuk berhenti merokok tahun ini.

“Kami mulai dengan asesmen lalu membangun komitmen untuk mengurangi konsumsi rokok secara bertahap,” ujarnya. Setiap anak mendapat pendampingan untuk memantau kemajuan dan kendala selama proses berhenti merokok.

“Keputusan untuk benar-benar berhenti kami serahkan pada kesiapan anak. Yang penting mereka mulai sadar dan berkomitmen,” tegas Lovita. Lonjakan jumlah perokok remaja menunjukkan lemahnya kontrol sosial dan edukasi kesehatan di sekolah dan keluarga.

Perlu sinergi lintas sektor mulai dari sekolah, puskesmas, hingga komunitas remaja. Tujuannya untuk membangun kesadaran kolektif bahwa berhenti merokok bukan sekadar soal niat. Namun, investasi jangka panjang bagi kualitas hidup. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#kota batu #kesehatan #dinkes kota batu #ppok