BATU – Angka perokok di kalangan remaja Kota Batu melonjak tajam. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat 763 remaja aktif merokok pada 2024. Jumlahnya naik signifikan dari 2023 yang hanya mencatat 270 remaja aktif merokok. Artinya jumlahnya naik 493 orang dalam setahun.
Kepala Seksi Promosi Kesehatan (Promkes) Dinkes Jawa Timur, Citra Ervina Ahiyanasari menyebut ada pergeseran usia awal merokok. Pada 2023 perilaku merokok mulai tercatat pada rentang usia 10-18 tahun. Namun data terbaru menunjukkan kasus merokok pada anak berusia 4-9 tahun sudah muncul.
Bahkan jumlahnya mencapai 2,6 persen dari total perokok di Jawa Timur. Sementara kelompok usia 10-18 tahun menyumbang 44,7 persen dari total perokok di Jawa timur. Kebiasaan merokok pada remaja tidak hanya berbentuk rokok kretek saja tetapi juga rokok linting, shisha, serta rokok elektrik baik vapor, pod, maupun ikos.
Rata-rata konsumsi rokok batang mencapai 7–8 batang per hari pada kelompok yang terpapar aktif. Di Kota Batu, Dinkes memperoleh angka tersebut melalui skrining di sekolah-sekolah untuk rentang usia 10-18 tahun.
Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes, dr Susana Indahwati mengatakan skrining melibatkan alat smokerlyzer untuk mengukur kadar karbon monoksida (CO) dalam napas sebagai indikator paparan asap rokok. “Kami mendapati cukup banyak siswa yang terpapar,” ujarnya.
Menurut Susana, ada dua faktor utama mendorong perilaku merokok pada anak-anak. Yakni lingkungan pergaulan yang permisif dan kondisi keluarga. “Seringkali orang tua tidak melarang, bahkan ada yang memberi rokok kepada anak. Selain itu, lingkungan pergaulan yang dikelilingi perokok memicu anak meniru,” katanya.
Data Dinkes Jatim menegaskan fenomena tersebut. Ada 60,6 persen orang tua tidak mencegah anak membeli rokok. Praktisnya, anak yang tidak punya banyak uang tetap dapat membeli rokok eceran per batang dengan harga murah. Untuk rokok elektrik, pelaku usaha memfasilitasi pembelian lewat skema arisan atau cicilan di marketplace.
Dengan begitu, akses menjadi mudah meski harga unit relatif tinggi. Susana juga mengaitkan kebiasaan merokok pada remaja dengan kesehatan mental. Anak yang menghadapi tekanan atau mencari pelarian cenderung mencoba merokok sebagai mekanisme koping.
“Peran orang tua sangat penting, bukan hanya melarang tetapi juga memberi dukungan emosional dan pemahaman,” kata Susana.
Konselor Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kota Batu, Lovita Siregar menambahkan dimensi psikososial. Dia menyebut remaja bersifat labil dan cenderung meniru kelompok agar mendapat pengakuan. “Mereka sering bertindak impulsif. Merokok dianggap cara cepat diterima oleh teman sebaya,” ujarnya.
Lovita menekankan perlunya keterampilan pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah yang diajarkan sejak dini. Lonjakan drastis jumlah perokok usia remaja di Kota Batu ini menunjukkan kegagalan multisektoral. Mulai dari pengawasan keluarga, pengendalian peredaran rokok eceran, dan implementasi Kawasan Tanpa Rokok di sekitar sekolah.
Selain itu, intervensi kesehatan mental remaja juga tampak masih rendah. Skrining dengan smokerlyzer efektif untuk mengidentifikasi masalah. Namun, penanganannya memerlukan langkah terpadu. Seperti edukasi orang tua dan pembatasan akses rokok kepada anak melalui penegakan larangan penjualan eceran.
Lebih lanjut, pemerintah perlu menguatkan regulasi iklan dan penjualan produk nikotin serta program kesejahteraan mental di sekolah. Lovita mendorong kampanye intensif terkait hal itu melalui pelibatan pihak sekolah untuk penegakan peraturan larangan merokok untuk menekan tren ini. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho