Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

77 Remaja di Kota Batu Mengalami Gangguan Mental, Penyebabnya Didominasi Masalah Keluarga dan Lingkungan

Fajar Andre Setiawan • Rabu, 15 Oktober 2025 | 16:27 WIB
Jumlah anak di Kota Batu yang mengalami gangguan mental.
Jumlah anak di Kota Batu yang mengalami gangguan mental.

BATU - Masih banyak anak-anak di Kota Batu yang mengalami gangguan mental. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat ada 77 anak-anak yang tidak sehat secara mental.

Penyebabnya tak jauh berbeda dengan gangguan kejiwaan pada orang dewasa. Yakni dari keluarga dan lingkungan sekitar. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB Kota Batu Amida Yusiana mengatakan ada tujuh laporan gangguan mental anak yang tercatat di Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga).

“Laporan itu didominasi anak usia di atas 10 tahun atau usia SMP,” ungkapnya. Kebanyakan disebabkan minimnya kepekaan orang tua terhadap anak. Misalnya orang tua yang kerap membanding-bandingkan dan tidak pernah mengapresiasi. Sehingga, anak tidak merasa diberi kasih sayang. Ditambah komunikasi antara keduanya pun tidak baik.

“Beberapa kasus memang berasal dari keluarga broken atau bercerai,” beber Amida. Perceraian orang tua membuat anak menanggung beban hidup tanpa teman cerita. Dari situlah, mental seorang anak terganggu dan sering merasa sendirian. Beberapa kasus juga dipengaruhi kejadian traumatis. Seperti menjadi korban pelecehan atau kekerasan seksual.

Itu membuat seorang anak mengalami depresi hingga merasa dirinya tidak lagi berharga. Kondisi itu membuat anak perlu diberikan pendampingan dan trauma healing. Gangguan kesehatan mental juga disebabkan rendahnya kemampuan menguasai emosi. Sehingga, itu memicu kecemasan yang berlebihan.

Bahkan dalam kondisi yang parah, pengidap gangguan mental bisa menyakiti diri sendiri atau self injury. Yang paling marak ditemukan yakni dengan cara menyilet pergelangan tangan atau barcode korea. Itu menjadi bentuk luapan emosi. Yang paling parah bisa mengarah pada tindakan percobaan bunuh diri.

Sementar itu, berdasarkan data Dinkes, ada 124 pengakses layanan psikologis sepanjang tahun ini. Sebanyak 70 di antaranya merupakan anak berusia di bawah 18 tahun. Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes dr Susana Indahwati mengatakan ada beberapa keluhan gangguan mental pada remaja.

Mulai dari kecemasan, ketakutan, dan kurang percaya diri. Keluhan itu dipicu kesalahan pola asuh orang tua yang tidak suportif. Selain itu, kekerasan masa kecil yang dilakukan orang tua akan meninggalkan dampak psikologis jangka panjang. Anak-anak akan cenderung merasa tertekan dan mengalami kondisi emosi yang tidak stabil.

“Kondisi itu diperburuk dengan stigma negatif bagi orang yang datang ke psikolog. Sehinggga, mereka jadi enggan mencari bantuan,” ungkapnya. Susan mengaku rutin melakukan skrining ke sekolah-sekolah untuk melakukan konseling. Termasuk kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) pada guru UKS mengenai kesehatan jiwa remaja.

Tak hanya itu, para anak yang mengalami gangguan mental juga dapat mengakses layanan psikolog klinis. Selain berkonsultasi, pasien bisa mendapat rujukan ke psikiater bila diperlukan. Layanan tersebut bisa diakses di Puskesmas Batu. “Jika memungkinkan, kami akan buka layanan itu di semua puskesmas tahun depan,” pungkas dia. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#DP3AP2KB #dinkes #gangguan mental #batu