BATU – Warga Kota Batu harus hati-hati terhadap kemungkinan munculnya Flu Singapura.
Karena penyakit yang disebabkan oleh infeksi ini sangat menular, khususnya kepada anak.
Gangguan ini disebut juga dengan penyakit tangan, kaki, dan mulut (HMFD).
Penyakit tersebut rentang menyerang di masa pergantian musim seperti sekarang ini.
Koordinator Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana Dinas Kesehatan Kota Batu, dr Susana Indahwati menjelaskan, anak-anak paling berisiko terserang penyakit Flu Singapura, terutama balita.
"Meski jarang, penyakit ini bisa juga terjadi pada orang dewasa," ucapnya.
Baca Juga: Ini 5 Manfaat Sayur Pakis yang jarang diketahui!
Penyakit Flu Singapura umumnya disebabkan oleh strain coxsackievirus dengan jenis A16.
Virus ini dapat menyebar dengan mudah dari satu orang ke orang lain.
Penyebaran dapat terjadi ke jaringan di mulut, sekitar amandel, dan masuk ke dalam sistem pencernaan.
"Pada akhirnya, penyakit ini akan menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah," katanya.
Flu Singapura ini dapat menimbulkan tanda berupa lepuhan atau luka pada mulut serta ruam di tangan dan kaki.
Susan melanjutkan, terkadang luka-luka tersebut juga muncul di siku tangan, bokong, lutut, dan lipat paha.
"Saat terjadi, gejala yang timbul umumnya ringan sehingga dapat hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari," ujarnya.
Penyakit ini paling rentan untuk menyerang anak-anak di bawah usia 10 tahun.
Bahkan kasus lebih banyak ditemukan pada anak di bawah 5 tahun.
Anak-anak di pusat penitipan lebih rentan untuk mengalaminya karena penyebarannya melalui kontak dari satu orang ke orang lainnya.
"Namun kekebalan tubuh juga turut meningkat terhadap penyakit saat usia juga bertambah. Meski begitu, remaja dan orang dewasa tetap memiliki kemungkinan untuk terserang penyakit ini," ungkapnya.
Sementara itu, penularan infeksi Flu Singapura dapat terjadi selama beberapa hari pertama.
Biasanya sebelum ruam muncul.
Untuk kulit yang lepuh dapat mengering dalam waktu sekitar 10 hari.
"Saat lepuh mengering, orang yang terinfeksi cenderung tidak akan menyebarkannya lagi ke orang lain. Namun, virus dapat terus hidup di dalam tinja selama berminggu-minggu setelah ruam hilang," jabarnya.
Sampai saat ini belum ada obat yang dapat mengatasi penyakit tersebut.
Selain itu juga tidak ada vaksin yang ampuh untuk mencegahnya.
Karenanya anak yang mengidap penyakit ini perlu mendapatkan perawatan agar lebih cepat untuk pulih dan dapat kembali beraktivitas. (sif/lid)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana