BATU, RADAR BATU - Kemarau panjang tak mengganggu produksi tomat petani di Dusun Kekep, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Ketersediaan air yang tetap terjaga dan perawatan tanaman secara disiplin membuat hasil panen tetap stabil. Beberapa waktu lalu, capaian panen salah seorang petani masih mencapai 21 ton.
Petani setempat, Markasa mengatakan dari 6.500 bibit tomat yang ditanam sejak Januari telah panen 16 kali hingga September lalu. Total produksi yang dihasilkan mencapai sekitar 21 ton. Ketersediaan pasokan air menjadi faktor penting selama musim kemarau.
Air yang terus mengalir membuat proses perawatan tetap berjalan meski curah hujan rendah.
Untuk menjaga produktivitas, dia melakukan pemupukan satu hingga dua kali dalam sepekan. Penyemprotan pestisida juga dilakukan setiap empat hari sekali. Ketepatan waktu perawatan, lanjut dia, berpengaruh terhadap kondisi daun dan kualitas buah. Bahkan, tanaman dengan kondisi daun mulai mengering masih dapat menghasilkan buah yang segar.
Pria berusia 54 tahun itu mengaku jumlah hasil setiap kali panen sulit dipastikan. Produksi sangat bergantung pada konsistensi perawatan. Jika ada tahapan yang terlewat, hasil panen berpotensi turun signifikan. Hasil panen tomat kemudian didistribusikan ke sejumlah pasar sayur regional, seperti Pasar Karangploso dan Pasar Gadang di Malang.
Untuk Pasar Sayur Batu, pengiriman dibatasi maksimal lima kuintal atau sekitar 10 peti.
Baca Juga: Panen Tomat Terpangkas Separo Akibat Virus Gemini, Petani Kota Batu Rugi Jutaan Rupiah
Tak hanya memenuhi kebutuhan pasar di Jawa Timur, sebagian hasil panen juga dikirim hingga Pulau Kalimantan. Hingga kini, harga tomat masih relatif stabil. Markasa menjualnya kepada distributor dengan harga sekitar Rp 4 ribu per kilogram.
Mardi, petani lainnya menyebut produksi tomatnya hingga saat ini berjalan lancar. Aliran air dari sumber masih mencukupi untuk perawatan tanamannya. “Penyiraman masih bisa rutin meski kemarau. Biasanya saya menyiramnya dua kali saat pagi dan sore hari,” kata petani berusia 60 tahun itu.
Hasil panen per bulannya memang fluktuatif. Namun, jika ditotal, dalam kurun waktu sembilan bulan, dia bisa panen sekitar 15 ton dari sekitar 4.000 bibit. Selain penyiraman, pemupukan dan penyemprotan pestisida juga harus rutin demi kestabilan hasil panen. (yun/dre)
Editor : Aditya Novrian