Cobek Khas Kota Batu Tetap Dicari meski Penjualan Sepi

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 19:00 WIB
JAGA KUALITAS: Penjual cobek batu dan gerabah di Jalan Ir Soekarno melayani pembeli beberapa hari lalu. (INDAH MEI YUNITA/RADAR BATU)
JAGA KUALITAS: Penjual cobek batu dan gerabah di Jalan Ir Soekarno melayani pembeli beberapa hari lalu. (INDAH MEI YUNITA/RADAR BATU)

JUNREJO - Deretan penjual kerajinan di Jalan Ir Soekarno, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, masih bertahan di tengah geliat pariwisata Kota Batu. Namun, peningkatan kunjungan wisata belum sepenuhnya berdampak pada penjualan kerajinan. Termasuk cobek batu khas Kota Batu.

Salah satu penjual, Lis Nurhayati mengatakan kondisi saat ini masih lebih baik dibandingkan sembilan tahun lalu, sebelum Jatim Park 3 berdiri. Saat itu, pembeli nyaris tidak ada pada hari biasa. “Adanya saat Sabtu dan Minggu saja. Sejak ada wisata itu, mulai ada pembelinya walaupun sehari ada lima orang,” kata Lis.

Perempuan berusia 65 tahun itu telah berjualan sejak 1981. Dari berbagai kerajinan yang dijajakan, cobek berbahan batu asli Kota Batu menjadi salah satu produk yang paling diminati wisatawan. Pasokan cobek tersebut didatangkan langsung dari sentra produksi di Kampung Rejoso. Keaslian bahan menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli.

Baca Juga: Cobek Bakar ABG Batu, Surganya Pencinta Sambal Pedas dengan Lauk Beragam

“Orang kalau ke sini pasti bertanya, cobek yang dibuat dari batu asli, bukan dari semen. Meskipun harganya memang lebih mahal,” ujarnya. Harga cobek batu bervariasi sesuai ukuran dan kualitas bahan. Ukuran kecil dibanderol sekitar Rp 20 ribu. Sementara, ukuran terbesar bisa mencapai Rp 350 ribu per buah.

Sebagai pembanding, cobek berbahan semen memiliki harga lebih terjangkau. Ukuran terbesar hanya sekitar Rp 100 ribu. Lis mengatakan, perbedaan kedua produk dapat dikenali dari teksturnya. Cobek berbahan batu asli memiliki permukaan lebih kasar dibandingkan cobek semen.

Baca Juga: UMKM Baru Ramaikan CFD Mbatu Sae Kota Batu

Penjual lainnya, Ningsih mengatakan penjualan kerajinan di lapaknya relatif stabil sejak pertama kali berjualan. Namun, jumlah transaksi masih rendah. “Mungkin karena ini produk oleh-oleh dan bukan kebutuhan pokok, jadi wisatawan masih berpikir panjang untuk membeli,” kata perempuan 60 tahun itu.

Menurut Ningsih, cobek batu tetap menjadi salah satu produk yang paling dicari wisatawan. Persoalan harga kerap menjadi pertimbangan pembeli. Ketika ada yang menilai harga terlalu mahal, dia menjelaskan bahwa cobek tersebut menggunakan batu asli dan memiliki daya tahan lebih lama.

Editor : Fajar Andre Setiawan
junrejo batu jual kota batu penjualan alat memasak