BATU - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memberi tekanan pada rantai pasok sejumlah bahan pangan. Di Kota Batu, harga daging ayam ras disebut telah menyentuh Rp 40-42 ribu per kilogram. Kondisi tersebut menjadi perhatian Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono saat berkunjung ke Kota Batu pada Sabtu lalu (19/9).
Sudaryono mengatakan, kemunculan MBG sebagai pasar baru dalam skala besar turut memengaruhi dinamika harga. Dia menyebut kondisi itu telah dibahas bersama asosiasi peternak ayam. “Masalahnya harga ayam sedang tinggi, sementara harga telurnya murah. Tentu saja MBG ini sebagai emerging market sempat mendistorsi pasar,” ujar Sudaryono.
Baca Juga: MBG Serap Hasil Pertanian Kota Batu, Kepala BGN Soroti Kenaikan Harga Jeruk
Menurutnya, lonjakan permintaan MBG tidak hanya berdampak pada harga di pasar tradisional. Rantai pasok bahan pangan juga ikut terganggu di sejumlah daerah, termasuk Kota Batu. Kondisi tersebut membuat dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kesulitan mendapatkan pasokan sesuai kebutuhan.
Sudaryono menyebut pembelian yang dilakukan tanpa sistem pasokan khusus juga berpotensi memengaruhi kualitas bahan pangan. “Akibatnya, pengelola dapur MBG membeli ayam dari supplier pasar biasa secara asal, sehingga kadang kualitas ayamnya sudah tidak segar dan memicu gangguan pasokan di pasar umum,” jelasnya.
Untuk itu, BGN menyiapkan marketplace khusus pengadaan bahan baku MBG. Sistem ini dirancang agar pemasok, harga, transaksi, hingga rantai pasok dapat dipantau lebih jelas. Pada tahap awal, sejumlah komoditas prioritas akan masuk dalam sistem tersebut, termasuk daging ayam, telur, daging sapi atau kerbau, beras, minyak goreng, dan susu.
Baca Juga: Cegah Keracunan Terulang, Dinkes Kota Batu Wajibkan Sampel MBG Minimal 250 Gram
“Kami juga menyiapkan mekanisme pemasok terverifikasi. Nanti harus ada suplai khusus untuk program ini,” tegas pria yang akrab disapa Mas Dar tersebut. Ia menegaskan, fokus BGN tidak hanya memastikan kebutuhan gizi penerima MBG terpenuhi.
Tata niaga pangan dan keberlangsungan ekonomi peternak lokal juga menjadi bagian yang perlu dijaga. Marketplace ditargetkan mulai beroperasi pada akhir September atau awal Oktober 2026.
Editor : Fajar Andre Setiawan