BATU - Produksi mawar di Kota Batu terus meningkat dalam empat tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi komoditas tanaman hias tersebut mencapai 82,13 juta tangkai pada 2025. Angka itu menjadi yang tertinggi di antara 17 tanaman hias yang tercatat.
Produksi mawar pada 2022 mencapai 67,49 juta tangkai. Jumlahnya meningkat menjadi 79,76 juta tangkai pada 2023. Setahun berikutnya, produksi kembali naik menjadi 80,91 juta tangkai.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno mengatakan, kondisi iklim Batu mendukung pengembangan tanaman hias. Termasuk mawar yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias dan bunga potong. “Baik mawar yang digunakan murni sebagai tanaman hias maupun sebagai bunga potong untuk dirangkai menjadi buket, dapat diproduksi di Kota Batu,” kata Hendry.
Baca Juga: Bediding Pangkas Panen Mawar di Kota Batu hingga 80 Persen
Pada 2025, produksi mawar tersebar di tiga kecamatan. Kecamatan Batu menyumbang 5,29 juta tangkai. Kecamatan Junrejo menghasilkan 210 ribu tangkai. Sementara, Kecamatan Bumiaji menjadi sentra terbesar dengan produksi 76,64 juta tangkai. “Desa penghasil terbanyak ada di Gunungsari dan Sidomulyo,” imbuh mantan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batu tersebut.
Kedua desa itu dikenal sebagai sentra tanaman hias. Selain produksi, kawasan tersebut juga memiliki wisata petik mawar. Menurut Hendry, permintaan mawar datang dari berbagai daerah. Pasarnya mencakup Malang Raya hingga luar Jawa, seperti Bali dan sekitarnya.
Pemkot Batu mendukung peningkatan produksi melalui pembinaan kelompok tani. Petani juga didorong memperluas akses pasar melalui platform perdagangan elektronik atau e-commerce. Selain itu, kerja sama antardaerah dilakukan untuk menjaga stabilitas harga. Langkah itu sekaligus mengantisipasi lonjakan pasokan saat musim panen raya.
Baca Juga: Dua Dekade, Petani Mawar di Kota Batu Terjebak di Harga Rp 1.000
Editor : Aditya Novrian