IHSG Rebound ke Level 6.502, Putus Pelemahan 5 Hari Beruntun

Nabillah Puteri Vinandika • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 14:10 WIB
Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun 2026 yang menunjukkan tren rebound setelah sempat melemah selama enam hari perdagangan beruntun. (Foto: Dok. Databoks Katadata)
Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun 2026 yang menunjukkan tren rebound setelah sempat melemah selama lima hari perdagangan beruntun. (Foto: Dok. Databoks Katadata)

 JAKARTA, RADAR BATU  — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit ke zona hijau pada perdagangan Rabu (16/9/2026) pagi, sekaligus memutus pelemahan yang terjadi selama lima hari bursa berturut-turut. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 10.45 WIB, indeks tercatat menguat 0,63 persen ke level 6.502,41.

Aksi beli selektif pada sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps) menjadi penopang utama pembalikan arah ini, setelah pada sesi sebelumnya bursa domestik mengalami tekanan hebat. Pada penutupan perdagangan Selasa (15/9/2026), IHSG mendarat di zona merah dengan koreksi 1,13 persen ke level 6.461,15.

Analis BinaArtha Sekuritas, Ivan Rosanova, menilai secara teknikal posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase konsolidasi yang krusial. "Indikator MACD sebelumnya menunjukkan momentum bearish setelah indeks ditutup di bawah garis SMA-20 selama dua hari berturut-turut," jelas Ivan. Menurutnya, meski hari ini mengalami rebound, pasar tetap perlu mencermati batas psikologis di level 6.370 untuk mengantisipasi risiko penurunan lanjutan menuju 6.290 jika tekanan jual kembali membesar.

Pergerakan indeks hari ini juga diwarnai antisipasi para pelaku pasar terhadap sentimen makro ekonomi, baik dari dalam maupun luar negeri. Dari global, pasar fokus menanti hasil pertemuan komite kebijakan moneter (FOMC) Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang berlangsung pada 16–17 September 2026. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga acuan pertama The Fed sejak Mei 2023 kini berada di angka 73 persen, dipicu oleh harga minyak dunia yang masih bertahan tinggi.

Sementara dari koridor domestik, pasar modal terpantau mulai menyesuaikan diri dengan dinamika kebijakan baru pasca-pelantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan pada Senin (14/9/2026) lalu menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Di sisi lain, nilai tukar Rupiah masih bergerak fluktuatif setelah pada Selasa sore ditutup melemah 0,14 persen ke level Rp17.694 per dolar AS, sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Dikutip dari Berbagai Sumber
IHSG Saham Perbankan Bursa Efek Indonesia The Fed Pasar Modal