BATU, RADAR BATU - Realisasi investasi Kota Batu mencapai Rp 395,95 miliar sepanjang Januari-Juni 2026. Nilai tersebut sudah mencapai 64,91 persen dari target setahun sebesar Rp 610 miliar. Namun, capaian itu tidak bisa dibandingkan mentah dengan realisasi tahun sebelumnya. Sebab, mulai tahun ini ada perubahan metode pencatatan investasi melalui Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM).
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Batu Dyah Lies Tina Purwaty mengatakan perubahan tersebut mengikuti ketentuan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Selain perubahan pelaporan, target investasi Kota Batu juga mulai mengacu pada target yang ditetapkan Pemprov Jawa Timur.
“Hingga pertengahan tahun ini, pergerakan investasi di Kota Batu sangat menggembirakan karena sudah mencapai lebih dari 60 persen dari target tahunan,” ujarnya. Target Rp 610 miliar pada 2026 ditetapkan berdasarkan surat Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Timur tertanggal 25 Maret 2026 Nomor 500.16.6/594/116.4/2026.
Baca Juga: Full Jadwal hingga November, Timnas Indonesia Siap ke Yordania untuk FIFA Matchday - Radar Batu
Penyesuaian tersebut membuat indikator investasi daerah tidak lagi sepenuhnya ditentukan pemerintah kota. Mulai tahun ini, perhitungan LKPM juga menggunakan realisasi tambahan investasi pada periode pelaporan. Pada periode sebelumnya, pelaku usaha masih dapat mencatat akumulasi investasi.
“Kalau pada 2025 lalu, pelaporan investasi dari pelaku usaha masih menggunakan sistem akumulasi total. Namun untuk 2026 ini komponen realisasi dihitung murni berdasarkan nilai tambahan realisasi investasi per semester,” jelas Dyah. Artinya, investasi yang telah dicatat pada periode sebelumnya tidak kembali dihitung sebagai tambahan investasi.
Pembelian dan pematangan lahan, pembangunan gedung, serta pengadaan sarana dan prasarana hanya masuk ketika benar-benar menjadi tambahan realisasi pada periode tersebut. Perubahan metode itu pula yang membuat angka investasi 2026 tidak tepat jika dibandingkan langsung dengan capaian 2025 yang mencapai triliunan rupiah.
Baca Juga: 14 Zona Megathrust Kepung Indonesia, Ini Daftar Wilayah yang Perlu Waspada - Radar Batu
Perbedaan angka tidak serta-merta menunjukkan kontraksi arus modal. Kepala Bidang Penanaman Modal DPMPTSP Kota Batu Ernawati mengatakan investasi masih didominasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Nilainya mencapai Rp 390,90 miliar dari total realisasi Rp 395,95 miliar.
Sementara, Penanaman Modal Asing (PMA) baru menyumbang Rp 5,04 miliar. Komposisi tersebut menunjukkan modal yang masuk ke Kota Batu masih sangat bergantung pada pelaku usaha domestik. Pada PMDN, sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 175,4 miliar.
Sektor tersebut disusul hotel dan restoran sebesar Rp 114,6 miliar. Sementara, sektor jasa lainnya menyumbang Rp 48,3 miliar. Struktur tersebut menunjukkan investasi Kota Batu masih kuat bertumpu pada sektor properti dan pariwisata. “Untuk sektor Penanaman Modal Asing tercatat sebesar Rp 5,04 miliar,” kata Ernawati.
Baca Juga: Terlilit Utang, Perempuan Asal Lumajang Bobol Rumah Kosong di Bumiaji Batu - Radar Batu
Pada PMA, sektor jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 2,9 miliar. Berikutnya sektor perdagangan sebesar Rp 1 miliar. Lalu, sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sekitar Rp 950 juta.
Dominasi properti dan hotel-restoran menjadi gambaran bahwa daya tarik utama Kota Batu masih berkaitan erat dengan sektor pariwisata dan kebutuhan akomodasi. Namun, struktur tersebut juga perlu dicermati. Tujuannya agar pertumbuhan investasi tidak hanya memperbesar aset komersial. Namun, ikut memperluas manfaat ekonomi bagi warga lokal.
Dengan realisasi enam bulan yang telah mencapai hampir dua pertiga target, ruang pencapaian target Rp 610 miliar masih terbuka. Namun, indikator keberhasilan investasi tidak cukup hanya diukur dari besarnya nilai modal yang masuk. Pemkot perlu memastikan investasi yang tumbuh menghasilkan lapangan kerja, memperkuat usaha lokal, dan memberi nilai tambah bagi ekonomi Kota Batu.
Editor : Fajar Andre Setiawan