BATU, RADAR BATU - Tanaman bonsai asal Kota Batu mampu menembus pasar internasional. Selain Malaysia dan Singapura, pengirimannya juga menjangkau Eropa. Volume setiap kali pengiriman pun bisa mencapai satu kontainer. Permintaan tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal. Kendati, mereka masih dibayangi kendala cuaca dan bahan baku.
Tim Pemasaran UD Artha D. F. Andika mengaku memiliki sekitar 1.000 tanaman bonsai dari berbagai jenis. Di antaranya kelompok cemara, ficus atau sebangsa beringin, seribu bintang, boksus, dan lada-lada. “Pemasaran lokal meliputi Malang Raya dan luar Jawa. Kalau ekspor biasanya ke Malaysia dan Singapura,” ucapnya.
Pengiriman ke Malaysia dan Singapura sifatnya satuan. Sementara, ekspor ke Eropa biasanya mencapai satu kontainer. Untuk pasar Eropa, pihaknya bekerja sama dengan eksportir lain. Ia bisa mengirim sekitar 100 pot per bulan. Frekuensinya menyesuaikan permintaan. Mulai satu hingga tiga kali dalam setahun.
Produksi bonsai membutuhkan perawatan ekstra. Terutama saat musim kemarau. Cuaca kering membuat frekuensi penyiraman harus ditingkatkan. Tujuannya agar pertumbuhan tanaman tetap optimal. Pada tahap pembibitan, pengelola lebih mengandalkan teknik cangkok. Metode tersebut dinilai efektif untuk memaksimalkan pembentukan akar.
Sementara, setek dinilai kurang efektif. Kecuali, kalau ditempatkan di area yang benar-benar teduh. Kendala lain datang dari rantai pasok global. Salah satunya ketersediaan kawat untuk membentuk bonsai. Bahan itu umumnya didatangkan dari luar negeri. “Namun, karena situasi yang kurang kondusif tahun ini, stok di penjual lokal sudah tidak ada,” imbuhnya.
Kondisi itu membuat pengelola memilih mendaur ulang kawat bekas. Sebelumnya, kawat yang telah digunakan langsung dilepas dan dibuang. Sejak tahun ini, kawat tersebut kembali dimanfaatkan untuk membentuk tanaman lainnya. Di tengah tantangan cuaca dan rantai pasok, pelaku usaha optimistis produksi bonsai Batu tetap bertahan.
Editor : Fajar Andre Setiawan