BATU, RADAR BATU - Seni lumut awet atau moss art masih menghadapi tantangan pemasaran di Kota Batu. Pemahaman masyarakat tentang karakteristik dan perawatannya masih minim. Itulah yang membuat calon konsumen masih ragu membeli. Padahal kerajinan tersebut sudah populer di luar negeri.
Seniman moss art asal Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Tendra Lucky Kurniawan mengatakan banyak calon pembeli mengira lumut yang sudah diawetkan membutuhkan perawatan rumit seperti tanaman hidup. “Jadi mereka masih berpikir sekian kali untuk membeli,” ujarnya.
Padahal, perawatan moss art relatif sederhana. Untuk jenis natural moss art, cukup disemprot cairan khusus dua kali dalam setahun. Sedangkan, artificial moss art tidak membutuhkan perawatan dan dapat bertahan lama. Kurangnya pemahaman konsumen tersebut berdampak pada pemasaran.
Baca Juga: Indonesia Berangkat ke Asian Games 2026, Timnas Basket Siap Hadapi Raksasa Asia! - Radar Batu
Tantangan lain datang dari harga yang relatif lebih tinggi dibanding dekorasi biasa. Selain menggunakan bahan baku alami, proses pengawetan lumut membutuhkan cairan khusus. Selain itu, juga butuh ketelitian agar warna serta teksturnya tetap terjaga. “Konsumen masih ada yang menanyakan, harga kok mahal,” tegasnya.
Tendra menyebut bahan baku produk seni tersebut memang mahal. Terutama untuk proses pengawetannya. Menurutnya, edukasi menjadi kunci untuk membuka pasar moss art di Kota Batu. Promosi melalui media sosial dan berbagai dukungan pemasaran terus dilakukan. Tujuannya agar masyarakat memahami nilai estetis sekaligus kepraktisan produk tersebut.
Editor : Fajar Andre Setiawan