BATU, RADAR BATU - Realisasi pajak hotel di Kota Batu masih stagnan di angka Rp 28 miliar. Padahal kunjungan wisatawan dan okupansi hotel sempat meningkat. Kondisi itu dipengaruhi pola wisatawan yang cenderung melakukan perjalanan sehari sehingga tidak banyak menginap.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Batu Mohammad Nur Adhim mengatakan, capaian Rp 28 miliar tersebut masih relatif sama dengan periode yang sama tahun lalu. Karena itu, penerimaan dari sektor perhotelan masih perlu didorong.
“Memang masih perlu kita dorong untuk meningkat. Namun, angin segarnya tidak ada penurunan, justru malah bisa stabil,” terangnya. Di sisi lain, tingkat penghunian kamar hotel sempat meningkat pada momentum liburan sekolah.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi menyebut, lonjakan wisatawan ikut mendongkrak okupansi hotel. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Kota Batu pada Juni 2026 mencapai 29,40 persen. Angkanya naik 1,43 poin dibandingkan Mei yang berada di level 27,97 persen.
“Kenaikan okupansi pada Juni memang logis karena bertepatan dengan libur sekolah. Biasanya mulai minggu kedua hingga ketiga Juni, wisatawan keluarga mulai berdatangan dan menginap di Kota Batu,” jelas Sujud. Namun, kenaikan okupansi belum diikuti peningkatan lama tinggal.
Rata-Rata Lama Menginap Tamu (RLMT) pada Juni hanya 1,04 malam. Angka itu turun 0,02 poin dibandingkan Mei yang mencapai 1,06 malam. Sujud menilai, kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan pola perjalanan wisatawan. Banyak pelancong memilih datang dan pulang pada hari yang sama.
Baca Juga: Sebelum Nonton Avengers: Doomsday, Ini Urutan Wajib Tonton X-Men dan MCU - Radar Batu
“Wisatawan memang bertambah, tetapi durasi tinggal belum kembali seperti sebelum masa pandemi,” ujarnya. Faktor daya beli juga dinilai memengaruhi lama tinggal wisatawan. Kondisi tersebut membuat sebagian pelancong memilih memangkas durasi liburan untuk menekan pengeluaran.
“Karena faktor daya beli juga, lama tinggal wisatawan belum seperti dulu yang bisa mencapai dua sampai tiga hari,” tambah Direktur PT Selecta itu. Menurut Sujud, tantangan pariwisata Kota Batu kini bukan sekadar meningkatkan jumlah kunjungan.
Pemerintah dan pelaku wisata perlu mendorong wisatawan agar tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang selama berada di Kota Batu. “Kalau masa tinggal bisa diperpanjang, dampak ekonominya bagi hotel, restoran, UMKM, pusat oleh-oleh, hingga pelaku ekonomi kreatif tentu akan semakin besar,” pungkasnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan