Penjualan Apel Batu Terus Anjlok

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 17:00 WIB
MAKIN SEPI: Penjual oleh-oleh khas Kota Batu di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo menata apel dan jeruk beberapa hari lalu. (INDAH MEI YUNITA/RADAR BATU)
MAKIN SEPI: Penjual oleh-oleh khas Kota Batu di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo menata apel dan jeruk beberapa hari lalu. (INDAH MEI YUNITA/RADAR BATU)

JUNREJO, RADAR BATU - Penjualan apel khas Kota Batu terus merosot sejak 2024. Dua tahun lalu, penjualan masih bisa tembus rata-rata 1,5 kuintal per bulan. Namun, sejumlah pedagang di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo kini hanya mampu menjual 50-90 kilogram per bulan.

Suladi, salah satu penjual apel mengatakan kondisi pasar saat ini jauh berbeda dibanding sebelum 2024. Kendati saat itu pun tingkat penjualan sudah mengalami penurunan ekstrem. Kunjungan wisata memang masih ramai. Namun, pola belanja wisatawan lebih hemat.

“Dulu sebelum 2024 itu, masih banyak yang beli. Mungkin hampir setiap minggu bisa menambah stok dagangan, tapi sekarang sudah berbeda jauh,” kata dia. Buah apel sebagai oleh-oleh bukan kebutuhan primer. Itulah yang membuat wisatawan cenderung mengesampingkan pembelian.

Baca Juga: 

Padahal, harga jual apel masih relatif terjangkau. Apel madu, misalnya, dibanderol Rp 60 ribu untuk kemasan 2 kilogram. Ada pula kemasan yang dijual Rp 40-45 ribu. Sementara apel manalagi dipatok Rp 40 ribu per kilogram.

Tekanan pedagang juga datang dari sisi pasokan. Di luar masa panen seperti saat ini, stok apel dari sejumlah sentra produksi seperti Junggo, Pujon, Nongkojajar, hingga Tulungrejo kerap tidak menentu. “Apalagi kalau sudah musim hujan, stok apel biasanya sulit,” imbuhnya. 

Dari sejumlah varietas yang dijual, apel manalagi masih menjadi favorit pelanggan. Rasanya yang lebih manis dan aroma khasnya menjadi alasan jenis tersebut banyak diminati. Sementara itu, Rome Beauty (RB) dinilai memiliki kualitas terbaik.

Baca Juga: Timnas Basket Indonesia Tatap Asian Games 2026, Roster Final Segera Diumumkan - Radar Batu

Varietas yang menjadi salah satu ciri khas Kota Batu tersebut biasanya diminati wisatawan yang memang menyukai apel. Meski penjualan dan pasokan tak menentu, pedagang tetap mempertahankan usahanya. Berdagang apel bagi mereka bukan sekadar bisnis. Namun, sumber penghasilan utama yang harus dijalankan di tengah tekanan ekonomi.

Hal yang sama juga dialami Sulkan, salah satu pedagang apel di Jalan Raya Mojorejo. Menurutnya, penjualan apel semakin menurun. Beberapa tahun lalu dia bisa menjual sampai sekitar 50 kilogram per hari. Namun, saat ini ia hanya bisa menjual 1 kuintal per bulan. “Jangankan penjualan, produksi saya juga menurun setiap tahun,” kata dia.

Menurutnya, salah satu faktor penurunan penjualan tersebut yakni daya beli masyarakat. Meski banyak wisatawan lalu-lalang, tetapi jarang ada yang mampir ke lapak mobilnya berjualan. Sedangkan untuk produksi yang menurun, salah satunya karena usia pohon yang terlalu tua.

Editor : Fajar Andre Setiawan
Penjualan Apel Apel Khas Batu apel batu apel pedagang