Perempuan Sempolan Bergerak, Ekonomi Menguat: UNEJ Dorong Hilirisasi Tomat Lokal Menuju SDGs 8

Indra Andi • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 08:00 WIB
PENGABDIAN MASYARAKAT:  Tim Dosen dari Universitas Negeri Jember (Unej) Saat Memberikan Edukasi Olahan Produk Tomat di Desa Sempolan, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember pada Sabtu (8/8).
PENGABDIAN MASYARAKAT: Tim Dosen dari Universitas Negeri Jember (Unej) Saat Memberikan Edukasi Olahan Produk Tomat di Desa Sempolan, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember pada Sabtu (8/8).

 

JEMBER - Melimpahnya hasil panen tak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Di Desa Sempolan, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, tomat menjadi komoditas yang harganya sangat murah dan kurang dimanfaatkan secara optimal oleh warga. Dari persoalan itulah gagasan pengabdian ini bermula.

Menjawab kondisi tersebut, tim dosen Universitas Jember (UNEJ) dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang berkolaborasi dengan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) menggelar program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk "Pemberdayaan Ekonomi Perempuan melalui Implementasi Model Bisnis Terintegrasi untuk Percepatan SDGs 8 di Desa Sempolan". Kegiatan ini digelar dalam dua sesi pada 8 Agustus dan 22 Agustus 2026.

Tim pengabdian ini diketuai oleh Sela Rachmawati, SPd MPd, dengan anggota Chamelia Putri, SPd ME dan Prima Ratnasari, SPd MPd dari FKIP UNEJ, serta menggandeng dosen FTP UNEJ, Riska Rian Fauziah, SPt MP MSc PhD untuk memperkuat sisi teknis pengolahan pangan.

Sesi pertama digelar Sabtu, 8 Agustus 2026, bertempat di ruang kelas RA Perwanida 15, Desa Sempolan, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh wali murid dan dewan guru RA Perwanida 15. Peserta tampak antusias mengikuti kegiatan dan menggali potensi tomat lokal untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan yang bernilai ekonomi.

Acara diawali dengan persiapan tim dan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan oleh MC serta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sambutan pertama disampaikan oleh Kepala RA Perwanida 15 Sempolan, Sulistyawati, S.Pd., dilanjutkan sambutan dari Ketua Tim Pengabdian, Sela Rachmawati, S.Pd., M.Pd. Sebagai bentuk dukungan pemanfaatan potensi dan keberlanjutan program, tim pengabdian turut menyerahkan bantuan peralatan produksi pengolahan tomat, yang diserahkan langsung oleh ketua tim pengabdian kepada Kepala RA Perwanida 15.

 

Sebelum masuk ke materi inti, peserta terlebih dahulu mengisi lembar pretest untuk mengukur pengetahuan awal mereka. Dampak pelatihan juga terlihat dari hasil evaluasi pretest dan posttest terhadap 50 peserta. Keterampilan pengolahan pangan meningkat dari 30 persen menjadi 84 persen. Pemahaman CPPOB/GMP dan keamanan pangan masing-masing meningkat dari 20 persen menjadi 90 persen. Sementara itu, pemahaman teknologi pengemasan naik dari 24 persen menjadi 80 persen dan pengetahuan mengenai HPP serta harga jual meningkat dari 20 persen menjadi 80 persen. Peningkatan paling signifikan terjadi pada kemampuan pemasaran digital, yang sebelumnya belum dimiliki peserta atau 0 persen, kemudian meningkat menjadi 80 persen setelah pelatihan.

Kegiatan inti sesi pertama diisi dengan edukasi dan demonstrasi pengolahan candy tomat dan jelly tomat yang disampaikan oleh Riska Rian Fauziah SPt, MP MSc PhD dalam paparannya, ia menjelaskan bahan, alat, serta tahapan pengolahan tomat menjadi candy dan jelly.

Sesi kedua berlangsung pada 22 Agustus 2026 dengan materi edukasi pengolahan torakur (tomat rasa kurma) dan puree tomat yang disampaikan oleh tim pengabdian. Selain materi produksi, peserta juga mendapatkan pelatihan pengemasan dan packaging baik ramah lingkungan yang dibawakan oleh Prima Ratnasari, SPd MPd serta pelatihan digital marketing untuk tips branding dan memasarkan produk olahan tomat agar lebih menarik, yang disampaikan oleh Sela Rachmawati, SPd MPd.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dimana para peserta yang mayoritas ibu-ibu rumah tangga sangat antusias menanyakan berbagai hal, mulai dari di mana bahan baku dapat diperoleh, hingga cara pengolahan Candy tomat yang lebih baik apakah dijemur di bawah sinar matahari atau menggunakan oven. Berbagai pertanyaan lain juga bermunculan, mencerminkan tingginya rasa ingin tahu peserta terhadap materi yang diberikan.

"Ibu ibu juga diharapkan nantinya dapat sampai ke tahap pemasaran dan dapat terjun langsung ke marketplace untuk memasarkan produk yang dihasilkan. Tentunya dalam prosesnya, bersamai tim akan membantu administrasi untuk mempermudah ibu-ibu semuanya" ujar Ketua Tim Pengabdian, Sela Rachmawati.

Kegiatan pengabdian ini dinilai sangat relevan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan sekaligus mendukung pencapaian SDGs 8 di Desa Sempolan. Sebagai penutup, peserta kembali diberikan lembar post test untuk mengukur pemahaman dan tambahan pengetahuan yang mereka peroleh selama pelatihan.

Hasil post test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu-ibu wali murid mengenai potensi alam Desa Sempolan untuk inovasi produk, pengolahan pangan, hingga pengemasan dan pemasaran digital. Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berharap perempuan di Desa Sempolan dapat lebih berdaya secara ekonomi, mulai dari mengolah bahan baku lokal, mengemas produk secara baik, hingga memasarkannya melalui platform digital, sehingga menjadi model bisnis terintegrasi yang berkelanjutan bagi desa.

Editor : Indra Andi
Pengabdian kepada Masyarakat kesejahteraan petani universitas jember