Pasar Bunga Lesu, Petani Sidomulyo, Kota Batu Pilih Bertahan

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 19:00 WIB
MASIH SEPI: Pelajar magang di Kebun Hortikultura Sidomulyo merawat tanaman hias beberapa hari lalu. (INDAH MEI YUNITA/RADAR BATU)
MASIH SEPI: Pelajar magang di Kebun Hortikultura Sidomulyo merawat tanaman hias beberapa hari lalu. (INDAH MEI YUNITA/RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU - Penjualan tanaman hias di Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu terus menurun sejak pascapandemi Covid-19. Kondisi tersebut membuat petani dan pedagang kehilangan pasar luar daerah. Meski omzet minim, biaya perawatan dan budidaya tetap berjalan. Hal itu terpaksa dilakukan agar tanaman tidak rusak. Kendati begitu, petani tetap memilih bertahan.

Salah satu petani tanaman hias, Lailatun Musfiroh mengatakan, penurunan penjualan paling terasa dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan, omzetnya pernah hanya sekitar Rp 1 juta dalam sebulan. “Tahun-tahun lalu masih lumayan. Beberapa bulan terakhir ini yang paling parah. Pernah satu bulan hanya dapat Rp1 juta,” ujarnya kemarin (5/8).

Menurutnya, tanaman hias bukan kebutuhan primer. Karen itu, minat masyarakat mudah berubah. Kondisi tersebut turut memengaruhi permintaan dari luar daerah. Sebelumnya, luar kota menjadi salah satu pasar utama. Memasuki Agustus, penjualan mulai menunjukkan sedikit peningkatan.

Baca Juga: Bupati Malang Tegaskan Sekolah Harus Bebas Bullying dan Pelecehan Seksual - Radar Batu

Beberapa pembeli terlihat mengangkut tanaman azalea dari lahan miliknya yang memiliki luas sekitar 500 meter persegi. Meski peningkatannya tidak seberapa, biaya operasional tetap harus dikeluarkan. Di antaranya kebutuhan sekam sekitar Rp 20 ribu per karung, polybag Rp 50 ribu hingga Rp100 ribu, pupuk, serta obat-obatan.

“Saya lebih memilih tidak menghitung untung dan ruginya. Asalkan ada yang beli, sudah bersyukur. Kalau kehabisan modal, saya ambilkan dari tabungan,” imbuhnya. Kemarau panjang juga menambah beban perawatan.

Penyiraman yang biasanya dilakukan sekali sehari kini harus ditingkatkan menjadi dua kali agar tanaman tidak rusak. “Kalau hanya satu kali bisa rusak. Jadi yang biasanya pukul 13.00 sudah istirahat, kali ini bisa sampai sore,” kata dia.

Baca Juga: Kemarau Panjang Ancam Air Pertanian, BPBD Jalin Koordinasi Intensif Hadapi Ancaman Karhutla Skala Besar - Radar Batu

Kondisi serupa dialami Asih, pedagang tanaman hias di sepanjang Jalan Bukit Berbunga. Menurutnya, penjualan justru sempat mencapai puncaknya ketika pandemi. Saat masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah, permintaan tanaman hias meningkat.

“Dulu saya sampai mengirim ke Nusa Tenggara Timur dan daerah lain di luar Malang Raya. Tapi karena pasar mereka sepi, saya tidak bisa suplai ke sana lagi,” ujarnya. Penurunan pasar telah dirasakan sekitar tiga tahun terakhir. Kini, Asih lebih banyak mengandalkan pembeli yang melintas di kawasan Jalan Bukit Berbunga untuk mempertahankan usahanya.

Editor : Fajar Andre Setiawan
Kemarau Panjang Petani Tanaman Hias Omzet Penjualan desa sidomulyo tanaman hias