BATU, RADAR BATU - Persaingan bisnis kuliner di Kota Batu kian ketat. Ketergantungan pada wisatawan dan tren yang cepat berubah membuat kafe dan restoran dituntut terus berinovasi. Penataan ulang konsep usaha atau rebranding dinilai jadi salah satu strategi bisnis tetap eksis.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi mengatakan karakter pasar kuliner di Kota Batu berbeda dengan Kota Malang. Kota Malang ditopang pasar mahasiswa. Sementara, Kota Batu bergantung pada wisatawan.
Kondisi itu membuat kunjungan kafe cenderung ramai saat akhir pekan dan libur panjang. Sebaliknya, tingkat kunjungan pada hari kerja relatif menurun. Karena itu, pelaku usaha harus menawarkan daya tarik yang membuat wisatawan tertarik datang.
“Misalnya lanskap alam, desain arsitektur, atau pengalaman kuliner yang tidak biasa,” terangnya. Menurut Sujud, perilaku konsumen, khususnya generasi muda, juga menjadi tantangan. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) membuat tempat nongkrong yang sempat populer bisa cepat ditinggalkan ketika muncul tren baru.
Karena itu, rebranding tidak cukup sebatas mengganti nama atau logo. Pelaku usaha harus mampu membaca perubahan pasar. Selain itu, pengusaha juga wajib punya daya tawar konsep baru yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Salah satunya dengan membuka layanan sejak pagi. Sejumlah tempat makan dan kafe di Kota Batu mulai menyasar wisatawan yang berburu sunrise. Di samping itu, tempat sarapan dengan pemandangan alam belakang juga ramai diminati. Konsep tersebut marak bermunculan di kawasan Kusuma Agro hingga Punk Potato.
Baca Juga: Selain Kawah Bromo, Ini 3 Spot Alam di Malang yang Tak Kalah Memesona - Radar Batu
“Pelaku usaha melihat ada segmen pengunjung yang cari suasana pagi, atau bahkan wisatawan yang belum tidur sejak malam harinya,” ujar Sujud. Menurutnya, view yang ciamik dan keunikan seperti itu yang membuat investasi kuliner tetap worth it.
Meski begitu, konsep baru harus diikuti kesiapan operasional. Menurutnya, bisnis kuliner yang mampu bertahan bukan hanya yang mengikuti tren. Namun, juga konsisten menjaga konsep dan terus menyesuaikan diri dengan pasar. “Kalau kafe di Batu hanya mengandalkan konsep standar tanpa nilai tambah, pasarnya pasti tergerus,” tegasnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan