BATU, RADAR BATU - Produksi jeruk di Kota Batu terus menunjukkan tren positif dalam empat tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu mencatat produksi meningkat dari 32.348 ton pada 2022 menjadi 32.934 ton pada 2023. Lalu, naik lagi menjadi 33.711 ton pada 2024 dan mencapai 37.258 ton pada 2025.
Kecamatan Bumiaji masih menjadi sentra produksi terbesar dengan kontribusi 26.898 ton. Disusul Kecamatan Junrejo sebanyak 7.044 ton dan Kecamatan Batu 3.317 ton. Salah seorang petani jeruk di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Mulyono mengatakan peningkatan produksi dipengaruhi usia tanaman yang semakin produktif.
“Produksi jeruk setiap tahun memang meningkat karena pohonnya semakin besar,” ujarnya saat diwawancara Selasa lalu (4/8). Menurut dia, hasil panen sangat bergantung pada perawatan.
Dari sekitar 200 pohon jeruk yang dikelolanya, produksi bisa mencapai 8-9 ton setiap musim panen. Namun, untuk panen tahun ini dia belum berani memperkirakan hasil. Sebab, panen baru akan berlangsung bulan depan.
Baca Juga: Geser Apel, Jeruk Siam dan Sapi Perah Dominasi Sektor Agraris Kota Batu
“Apalagi sekarang masih kemarau panjang,” kata pria 56 tahun itu. Meski demikian, kondisi tanaman di kebunnya masih terjaga. Pasalnya, penyiraman dilakukan secara rutin. Mulyono mengaku tantangan terbesar saat ini justru biaya produksi, terutama pupuk.
Sejak pertengahan 2022, petani jeruk tidak lagi memperoleh sebagian alokasi pupuk bersubsidi sehingga harus beralih ke pupuk non-subsidi. “Sekarang kami mengandalkan pupuk kandang yang harganya sekitar Rp 20 ribu per karung. Kalau NPK impor harganya sekitar Rp 825 ribu, terlalu mahal,” ujarnya.
Kondisi serupa disampaikan Doni Suherman, pekerja kebun jeruk di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji. Di lahan yang dikelolanya terdapat sekitar 1.300 pohon jeruk dengan rata-rata produksi sekitar 15 ton setiap panen. Kendati begitu, hasilnya tidak selalu sama.
Baca Juga: Wisata Petik Jeruk H.Dadang Pujon Ramai Dikunjungi Saat Musim Liburan
Panen terakhir pada Minggu lalu (2/8) menghasilkan sekitar dua ton buah. Saat ini, fokus utama petani adalah menjaga kondisi tanaman selama musim kemarau. “Sekarang sedang memaksimalkan perawatan saja. Saat kemarau begini pohonnya mudah layu,” katanya.
Selain kekeringan, petani juga mewaspadai serangan benalu dan lalat buah. Itu berpotensi menurunkan produktivitas menjelang musim berbuah pada Oktober mendatang. Karenanya, perawatan pascapanen tetap dilakukan agar kualitas dan hasil panen tetap terjaga. (yun/dre)
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang