Pedagang Kuliner CFD Mbatu Sae Kota Batu Jual 75 Porsi dalam Tiga Jam

Ramizard Rafsanjani • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 16:00 WIB
UMKM LOKAL: Pedagang UMKM CFD Mbatu Sae menyiapkan nasi empok pesanan pelanggan kemarin (19/7). (RAMIZARD RAFSANJANI/RADAR BATU)
UMKM LOKAL: Pedagang UMKM CFD Mbatu Sae menyiapkan nasi empok pesanan pelanggan kemarin (19/7). (RAMIZARD RAFSANJANI/RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU - Car Free Day (CFD) Mbatu Sae tak hanya menjadi ruang olahraga dan rekreasi warga. Agenda mingguan itu juga menjadi penggerak ekonomi bagi pelaku UMKM kuliner. Dalam tiga jam saja, pedagang mampu menjual 70-75 porsi makanan kemarin (19/7). Bahkan omzet mereka mencapai Rp 300-350 ribu. Nilai itu meningkat hampir dua kali lipat dibanding hari biasa yang rata-rata hanya sekitar Rp150 ribu.

Tingginya transaksi lantaran banyaknya wisatawan dari luar daerah yang sengaja datang berburu kuliner. Kondisi itu dirasakan Wijiono, warga Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo yang telah setahun terakhir berjualan nasi bakar, nasi kuning, dan gorengan meduran di kawasan CFD. Demi mengejar pembeli pagi hari, ia mulai memasak sejak pukul 03.00. Lantas, Wijiono mulai membuka lapak pukul 05.30.

Baca Juga: Jadwal Salat Lima Waktu Lengkap Kota Batu 19 Juli 2026 - Radar Batu

Dagangannya kini memiliki pelanggan tetap, bahkan dari luar Kota Batu. Harga yang ditawarkan pun tetap terjangkau, yakni sekitar Rp 7 ribu per porsi. “Kemarin ada pelanggan dari Sidoarjo yang sengaja datang ke sini. Mereka sampai bertanya kalau selain hari Minggu saya jualan di mana,” ujarnya.

Meski demikian, Wijiono menilai masih ada persoalan yang perlu dibenahi. Relokasi pedagang ke area stadion beberapa waktu lalu sempat memengaruhi jumlah pembeli karena ruang usaha menjadi lebih terbatas. Ia berharap pemerintah dapat menyediakan lokasi permanen agar pedagang memiliki kepastian tempat usaha. “CFD sangat membantu kami. Kami bisa berjualan dengan tenang tanpa khawatir ditertibkan,” katanya.

Baca Juga: Transaksi SPKLU di Kota Batu Melonjak 2 Kali Lipat - Radar Batu

Cerita serupa dirasakan Suis Pranti, warga Kelurahan Temas yang menjual nasi empok. Aktivitasnya bahkan dimulai sejak pukul 01.00 dini hari untuk menyiapkan nasi jagung dan berbagai lauk sebelum berbelanja ke pasar. Dengan harga Rp 8-10 ribu per porsi, nasi empok racikannya hampir selalu habis terjual setiap CFD.

Pembelinya datang dari berbagai kalangan, mulai anak-anak, wisatawan, hingga pejabat yang berkunjung ke Kota Batu. “Pembelinya dari semua kalangan. Warga lokal, wisatawan, sampai pejabat juga pernah makan di sini,” ungkapnya.

Editor : Fajar Andre Setiawan
UMKM Kota Batu UMKM Lokal CFD Mbatu Sae kuliner pedagang