Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Petani Hortikultura Kritik Sistem Pupuk Subsidi, Kuota Dinilai Tak Sesuai Kebutuhan Lapangan

Fajar Andre Setiawan • Minggu, 21 Juni 2026 | 18:47 WIB
PERTANIAN HORTIKULTURA: Salah seorang petani membersihkan gulma di kebun bawang prei yang ditumpangsarikan dengan salad andewi.
PERTANIAN HORTIKULTURA: Salah seorang petani membersihkan gulma di kebun bawang prei yang ditumpangsarikan dengan salad andewi

BATU, RADAR BATU - Sistem distribusi pupuk subsidi kembali menjadi sorotan petani hortikultura di Kota Batu. Selain kuota yang dianggap tidak sesuai kebutuhan komoditas lokal, mekanisme penyaluran melalui kios resmi dinilai menyulitkan petani dalam mengakses pupuk bersubsidi.

Petani hortikultura asal Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Nur Ikhsan, menilai kebijakan pemerintah pusat masih terlalu berfokus pada tanaman pangan seperti padi dan jagung.

Akibatnya, daerah sentra hortikultura yang mengandalkan komoditas buah dan sayuran mendapatkan alokasi subsidi yang relatif terbatas.

“Harusnya distribusi pupuk disesuaikan dengan kebutuhan petani di masing-masing daerah, bukan hanya berdasarkan komoditas tertentu,” katanya.

Kondisi tersebut membuat banyak petani hortikultura merasa tidak mendapatkan manfaat optimal dari program subsidi yang dibiayai pemerintah.

Persoalan tidak berhenti pada alokasi kuota. Di tingkat lapangan, petani juga mengeluhkan mekanisme penebusan pupuk melalui kios resmi.

Baca Juga: Petani Sayur Pilih Modal daripada Panen Gagal, Nekat Borong Pupuk Mahal demi Kualitas Produksi, Skema Distribusi Dinilai Merugikan Sektor Hortik

Petani asal Desa Sidomulyo, Setia Wahyudi, mengungkapkan bahwa sejumlah kios tidak melayani pembelian dalam jumlah kecil sehingga petani harus membeli minimal satu sak atau melakukan pembelian secara patungan dengan petani lain.

Selain itu, lokasi kios yang cukup jauh dari lahan pertanian membuat biaya dan waktu yang harus dikeluarkan semakin besar. “Banyak petani akhirnya tidak mengambil jatah pupuk karena prosesnya terlalu rumit,” ujarnya.

Menurut Yudi, pengelolaan pupuk subsidi akan lebih efektif apabila distribusi dilakukan melalui kelompok tani dibandingkan melalui kios resmi.

Keluhan tersebut menunjukkan bahwa tantangan program pupuk subsidi tidak hanya berkaitan dengan jumlah kuota, tetapi juga menyangkut kesesuaian kebijakan dengan karakteristik pertanian daerah serta kemudahan akses bagi petani.

Baca Juga: Petani Kota Batu Tinggalkan Pupuk Subsidi, Rela Keluarkan Modal Lebih Besar demi Selamatkan Panen  

Sejumlah petani berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem subsidi pupuk, mulai dari penentuan komoditas penerima, distribusi, hingga kualitas produk yang disalurkan agar program tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi sektor hortikultura yang menjadi salah satu penopang utama pertanian Kota Batu. (kr2/dre)

 

 

Editor : A. Nugroho
#pupuk subsidi #Bumiaji #kota batu #distribusi