BATU, RADAR BATU - Kecamatan Bumiaji menahbiskan diri sebagai tulang punggung utama sektor agrikultur di Kota Batu. Wilayah dataran tinggi ini memonopoli 99,96 persen dari total pasokan komoditas apel daerah sepanjang tahun 2025. Hegemoni ini membuktikan roda ekonomi dari hasil panen buah-buahan bertumpu pada kesuburan lereng gunung tersebut.
Realita dominasi agrikultur ini dirasakan langsung oleh Suliono. Petani apel asal Desa Sumbergondo ini mengakui ekosistem alam Kecamatan Bumiaji adalah berkah utama bagi produktivitas warga. Tanah di wilayahnya dinilai sangat subur untuk menanam berbagai komoditas buah-buahan.
“Buah apel itu hanya bisa hidup optimal di suhu minimal 22 derajat celsius. Bumiaji memiliki karakteristik dataran tinggi yang sangat cocok dengan syarat tersebut,” jelas Suliono. Ia lalu membagikan kisah pasang surutnya selama mengabdikan diri di kebun. Masa jaya bertani apel pernah membawanya mampu membeli lahan tambahan dan membangun rumah.
Namun, dunia pertanian hortikultura tidak luput dari risiko kehancuran besar. Ketangguhan mentalnya sempat diuji secara ekstrem pada 2023 lalu. “Waktu itu hampir 95 persen lahan apel saya gagal panen total akibat serangan penyakit busuk buah. Nilai kerugiannya saat itu setara dengan harga satu unit mobil baru,” kenang Suliono.
Meski pernah jatuh, ia tetap tegar merawat kebunnya. Hal ini ia lakukan semata-mata demi menjaga eksistensi buah apel ikonik tersebut di tengah ancaman fluktuasi harga pasar. Ketangguhan para petani berbanding lurus dengan catatan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu.
Laporan tahun 2025 menunjukkan Kecamatan Bumiaji menyapu bersih pasokan apel kota dengan panen sebesar 106.569,60 kuintal. Angka ini sangat kontras karena Kecamatan Batu hanya mampu menyumbang 38,87 kuintal. Sementara itu, Kecamatan Junrejo sama sekali tidak memproduksi apel.
Dominasi Bumiaji juga meluas pada komoditas jeruk siam. Wilayah ini memimpin produksi dengan capaian 268.976,68 kuintal dari total akumulasi kota sebesar 372.585,60 kuintal. Angka itu memaksaJunrejo dan Batu tertinggal jauh di posisi bawah. Keperkasaan Bumiaji kian nyata lewat capaian panen alpukat yang menyentuh angka 44.388,92 kuintal.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno menyebut dominasi Bumiaji dipengaruhi perpaduan faktor geografis dan kuatnya budaya lokal masyarakat. Apalagi, Bumiaji memiliki luas lahan pertanian yang jauh melebihi dua kecamatan lainnya.
BACA JUGA: Respons Aksi Unjuk Rasa, Wapres Gibran Rakabuming Terima Perwakilan Mahasiswa di Istana
“Tanah di Bumiaji cenderung lebih subur karena posisi topografinya berada lebih tinggi. Kondisi ini membuat kesesuaian lahan untuk tanaman hortikultura sangat ideal,” ujar Hendry.
Ia menambahkan, faktor sosiologis juga mengunci konsistensi produktivitas di wilayah tersebut. Mayoritas generasi terdahulu di Bumiaji bekerja sebagai petani.
Hal itu rupanya membentuk ikatan batin yang kuat bagi generasi saat ini untuk terus melanjutkan profesi tersebut. Berbekal hal itu, Bumiaji kini sah menjadi motor penggerak tunggal ketahanan pangan di Kota Batu. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan