BATU, RADAR BATU - Kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter diklaim belum berdampak signifikan terhadap sektor pariwisata di Kota Batu. Meskipun mengalami lonjakan harga sebesar Rp 3.950 dari tarif semula Rp 12.300 per liter sejak 10 Juni lalu, operasional industri perhotelan dan destinasi wisata di Kota Apel terpantau masih berjalan stabil.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi menilai daya tahan sektor pariwisata saat ini sangat bergantung pada segmentasi jenis bahan bakar yang digunakan pelaku usaha. Sektor perhotelan skala besar misalnya, memiliki cadangan bahan bakar internal yang berorientasi jangka panjang. Hal itu membuat kenaikan harga Pertamax tidak langsung sensitif terhadap fluktuasi harga harian.
“Kapasitas solar sebesar 5.000 liter yang dimiliki hotel sebenarnya bisa memenuhi kebutuhan operasional hingga setengah tahun. Jadi, kenaikan harga Pertamax tidak langsung berpengaruh pada pengeluaran rutin kami,” ujar Sujud. Namun, Sujud memperingatkan situasi di lapangan dapat berubah drastis apabila pemerintah ikut menaikkan harga biosolar.
Pasalnya, hampir mayoritas lini logistik dan transportasi massal pariwisata bergantung kepada jenis bahan bakar subsidi tersebut. Misalnya, seperti shuttle wisata hingga bus pariwisata. Jika harga biosolar ikut melejit menyusul Pertamax, efek domino dipastikan tidak akan terhindarkan.
Kondisi tersebut berpotensi memicu pembengkakan biaya logistik, mulai dari lonjakan harga bahan baku makanan hingga kenaikan tarif bus pariwisata yang membawa wisatawan masuk ke Kota Batu. Di sisi lain, struktur konsumsi energi pada destinasi wisata dan tempat hiburan modern saat ini dinilai sudah jauh lebih siap.
BACA JUGA: Respons Aksi Unjuk Rasa, Wapres Gibran Rakabuming Terima Perwakilan Mahasiswa di Istana
Mayoritas pengelola wahana permainan telah melakukan transisi energi. Mereka telah mengandalkan daya listrik sebagai sumber penggerak utama. Itu dilakukan demi mengejar efisiensi biaya operasional. Penggunaan BBM komersial seperti solar kini bergeser fungsi hanya sebagai instrumen cadangan saat kondisi darurat terjadi.
Sujud menyebut pihak pengelola wahana dan perhotelan baru akan menyalakan mesin genset berkapasitas besar dan mengonsumsi BBM dalam jumlah banyak apabila terjadi gangguan pada jaringan utama. “Penggunaan genset baru dilakukan jika ada pemadaman listrik dari pihak PLN. Kami berharap pasokan listrik tetap terjaga stabil agar tidak mengganggu operasional wisata,” pungkas Sujud. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan