BATU, RADAR BATU - Harga sawi dan pakcoy di Pasar Induk Among Tani Kota Batu anjlok drastis. Kini, sayuran hijau tinggal di angka Rp 4 ribu per kilogram. Fenomena musiman ini memangkas nilai jual komoditas secara signifikan. Kendati begitu, daya beli konsumen rumah tangga terpantau tetap stabil.
Namun di sisi lain, komoditas wortel justru meroket tajam. Harganya tembus angka Rp 18 ribu per kilogram. Sementara itu, komoditas andewi relatif kebal dari fluktuasi. Harganya bertahan di level Rp 20 ribu per kilogram.
BACA JUGA: Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 Per Liter, Antrean Pertalite Jadi Pemandangan Baru di Kota Batu
Antono, salah seorang pedagang sayur di Pasar Induk Among Tani mengatakan grafik harga di tingkat retail saat ini sepenuhnya mendikte dinamika pasokan di pasar induk dan intensitas dapur umum berskala besar.
“Begitu dapur MBG libur, tumpukan stok sayur tidak terserap maksimal sehingga harga berangsur turun. Beruntung, daya beli masyarakat umum masih cukup ramai untuk menutup perputaran modal,” jelas pria yang akrab disapa Anton ini.
BACA JUGA: Masih Ada 1.545 Kursi SMA dan SMK Negeri di Kota Batu, Ini Jalur SPMB yang Masih Dibuka
Di tengah kemerosotan sektor sayur-mayur, kelompok bumbu dapur dan jenis cabai justru memperlihatkan daya tahan yang jauh lebih solid. Data transaksi harian mencatat harga cabai rawit ajek di angka Rp 60 ribu per kilogram.
Disusul cabai merah besar seharga Rp 35 ribu per kilogram, cabai keriting Rp 45 ribu per kilogram, serta komoditas tomat yang tertahan di level Rp10 ribu per kilogram.
BACA JUGA: Lewat Jalur Banding, 4 Perwakilan Timnas Iran Akhirnya Kantongi Visa Masuk Amerika Serikat
Korelasinya yang kuat antara kalender akademik dengan volume serapan pasar hortikultura juga dibenarkan Tyas, pedagang lainnya. Ia melihat penurunan harga ini sebagai siklus rutin yang tak terhindarkan setiap kali pasokan ke dapur-dapur umum sekolah disetop.
“Kondisi pasar sebenarnya tetap hidup. Namun, kalau hari aktif sekolah berjalan kembali, harga sayuran biasanya langsung melesat drastis karena permintaan dapur umum melonjak berkali-kali lipat,” pungkas Tyas. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan