BATU, RADAR BATU - Kebutuhan akan likuiditas cepat dan dorongan status sosial pedesaan membuat instrumen investasi konvensional jauh lebih diminati masyarakat ketimbang aset lindung nilai jangka panjang. Fenomena tersebut terekam dari aktivitas belanja para petani dan warga Kota Batu sepanjang pertengahan tahun ini di Pasar Among Tani. Mereka mencatatkan dominasi pembelian emas perhiasan dibanding logam mulia dengan rasio 10 banding 1.
BACA JUGA: Wajib Diketahui: Kenali Hak dan Kewajiban Kita sebagai Warga Negara Indonesia
Hal itu disinyalir lantaran rendahnya potongan harga jual kembali atau buyback. Pemilik Toko Emas Ratnasari 2 M. Yusuf membenarkan jomplangnya data transaksi tersebut. Karakter konsumen lokal menurutnya lebih menyukai fisik aset yang bisa difungsikan secara aktif untuk menunjang penampilan sehari-hari. “Perbandingannya mencapai 1:10. Perhiasan bisa langsung dipakai,” ujar Yusuf.
Bagi kelompok ibu-ibu di wilayah pedesaan, perhiasan memuat aspek prestise sosial yang tinggi. Mereka menganggap perhiasan sebagai barang mewah yang dinamis. Sementara, logam mulia dinilai sebagai tabungan mati. Tren fungsionalitas penampilan ini rupanya tidak lagi didominasi generasi tua. Konsumen dari kalangan anak muda kini menunjukkan kecenderungan serupa demi estetika fesyen.
BACA JUGA: Kuota Jalur Domisili SMPN di Junrejo Resmi Rilis, Persaingan Diprediksi Ketat
Meski perhiasan merajai pasar, logam mulia seperti Antam, UBS, dan Emasku tetap disediakan untuk menjaga variasi produk. Di antara ketiganya, Antam dibanderol lebih mahal dengan selisih sekitar Rp 50 ribu karena kekuatan faktor merek. Faktor finansial saat kondisi mendesak menjadi alasan sekunder mengapa warga enggan beralih ke emas batangan.
Pramuniaga Toko Emas Gajahmadha Triana Febrianty menjelaskan emas perhiasan jauh lebih aman untuk keuangan jangka pendek karena sifatnya yang sangat likuid. Selisih harga buyback untuk emas tua hanya Rp10 ribu per gram. Sedangkan, emas muda selisih Rp 20 ribu per gram. “Sangat berbeda dengan logam mulia. Jika baru beli lalu terpaksa dijual dalam waktu dekat, ruginya bisa ratusan ribu rupiah,” beber Triana.
BACA JUGA: Wakil Ketua KONI Kota Batu Diduga Terseret Kasus Pengeroyokan
Logam mulia baru murni menguntungkan jika disimpan di atas kurun waktu 5 tahun. Roda ekonomi toko emas di kawasan ini nyatanya sebagian besar digerakkan dinamika sektor agraria. Triana mengungkapkan, mayoritas pembeli aktif mereka adalah para petani desa. Ketika hasil bumi melimpah dan panen sukses, mereka langsung mengonversi keuntungan tunai tersebut ke bentuk emas perhiasan. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan