BATU, RADAR BATU - Anomali pasar logam mulia tengah melanda Kota Batu. Harga emas lantakan turun sebesar Rp 630 ribu per gram. Penurunan tajam dari Rp 3 juta pada Januari menjadi Rp 2,37 juta per gram pada Juni ini memicu gairah belanja para investor untuk memborong aset. Namun di satu sisi, daya beli masyarakat umum merosot hingga 50 persen.
Pemilik Toko Mas Ratnasari 2 di Pasar Induk Among Tani M. Yusuf menilai tren penurunan ini tidak lepas dari imbas ketidakstabilan ekonomi global. Pergerakan harga emas secara perlahan merosot tajam sejak setelah perayaan Idul Fitri. Menurut Yusuf, harga jual emas lantakan terus terkoreksi ke bawah setiap bulannya.
“Penurunan harga yang cukup dalam ini berimbas langsung pada lesunya perputaran transaksi harian di toko saya. Transaksi pembelian saat ini turun drastis hingga 50 persen,” ungkapnya. Ironisnya, kelesuan pasar tradisional ini berbanding terbalik dengan situasi di pusat perbelanjaan emas berskala lebih besar.
Pramuniaga Toko Emas Gajahmada Kota Batu Triana Febrianty membenarkan adanya fluktuasi penurunan harga ke level Rp 2,37 juta per gram. Alih-alih sepi peminat, Triana menuturkan penurunan harga ini justru membawa berkah tersendiri. Ia mengamati animo masyarakat untuk memborong emas justru mengalami lonjakan signifikan.
“Banyak pembeli yang sengaja datang ke tokonya semata-mata untuk memanfaatkan momentum harga emas yang sedang turun drastis sebagai langkah investasi jangka panjang,” tandasnya. Situasi kontras antarpedagang ini menjadi potret nyata respons masyarakat akar rumput terhadap gejolak ekonomi global.
Bagi sebagian warga, inflasi memaksa mereka mengerem pengeluaran secara ekstrem. Namun bagi pemilik modal segar, angka Rp 2,37 juta per gram menjadi titik masuk paling menggiurkan untuk memborong aset sebelum harga kembali meroket. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan