Populasi petani apel di Kota Batu terus menyusut. Serangan penyakit busuk buah dan tingginya biaya produksi membuat banyak petani beralih ke komoditas lain.
BATU, RADAR BATU – Keberlangsungan komoditas apel di Kota Batu menghadapi tantangan berat. Selain persoalan harga, serangan penyakit tanaman menyebabkan banyak petani memilih meninggalkan budidaya apel dan beralih ke komoditas lain.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno mengungkapkan, populasi petani apel kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 25 persen dibandingkan kondisi sebelumnya.
BACA JUGA: Prediksi Brasil vs Maroko: Ujian Perdana Dua Kekuatan Besar di Piala Dunia 2026
Penyakit busuk buah menjadi ancaman paling serius karena menyerang sejak fase awal pembentukan buah.
“Penyakit busuk buah menjadi salah satu yang paling mematikan karena menyerang saat tanaman mulai berbuah, bukan hanya setelah panen,” katanya.
Kondisi tersebut dialami langsung Suliono, petani apel asal Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji. Dari sekitar 30 anggota kelompok tani yang dahulu aktif, kini hanya tujuh hingga delapan orang yang masih bertahan menanam apel.
BACA JUGA: Biaya Pakan Naik, Peternak Ayam di Kota Batu Terancam Rugi
Pada 2023, Suliono bahkan mengalami gagal panen besar setelah sekitar 95 persen tanaman apel di lahan seluas 2.500 meter persegi rusak akibat serangan penyakit.
Menurutnya, varietas Manalagi menjadi jenis yang paling rentan dibandingkan Anna maupun Rome Beauty.
Petani lain, Utomo, menambahkan bahwa musim hujan memperparah penyebaran penyakit. Kerusakan akibat pembusukan buah dapat mencapai sekitar 20 persen, sedangkan pada musim kemarau kerugian masih bisa ditekan hingga sekitar 5 persen.
BACA JUGA: Geser Apel, Jeruk Siam dan Sapi Perah Dominasi Sektor Agraris Kota Batu
Tingginya biaya produksi yang mencapai sekitar Rp20 juta setiap musim juga memaksa petani mencari cara berhemat. Salah satunya dengan membuat pestisida nabati dan pupuk organik cair sendiri untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia.
Sementara itu, buah yang hanya mengalami pembusukan ringan tidak langsung dibuang. Petani memilih mengolahnya menjadi produk bernilai tambah seperti keripik apel dan carang mas.
BACA JUGA: Berburu Potret Pusat Galaksi Bimasakti di Musim Bediding Kota Batu
Adapun buah yang tingkat kerusakannya sudah melebihi separuh bagian daging dibuang agar tidak menjadi sumber penularan penyakit di kebun.
Fenomena menyusutnya jumlah petani apel ini menjadi sinyal bahwa komoditas yang selama puluhan tahun menjadi identitas Kota Batu membutuhkan perhatian lebih serius, baik dari sisi pengendalian penyakit tanaman maupun perbaikan tata niaga agar tetap menarik untuk dibudidayakan. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan