Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Biaya Pakan Naik, Peternak Ayam di Kota Batu Terancam Rugi

Rori Dinanda Bestari • Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:00 WIB
HARGA ANJLOK: Peternak di Kecamatan Junrejo memberikan pakan ayam kemarin (12/6).
HARGA ANJLOK: Peternak di Kecamatan Junrejo memberikan pakan ayam kemarin (12/6).

 

BATU, RADAR BATU - Ketimpangan ekstrem antara melonjaknya biaya produksi dan anjloknya harga jual memicu potensi kerugian besar bagi peternak ayam petelur di Kota Batu. Meroketnya harga pakan pabrikan akibat fluktuasi kurs dolar berbanding terbalik dengan nilai jual telur yang kini terperosok ke angka Rp 21 ribu per kilogram di tingkat produsen.

Kondisi ini membuat para peternak kelimpungan. Ludi Tanarto, legislator sekaligus peternak ayam petelur di Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, menyebut tren penurunan harga ini sudah terasa sejak awal tahun lalu. Sempat naik tipis, grafik harga secara umum terus melandai. 

BACA JUGA: Bobol Tiga Brankas Emas Senilai Rp 200 Juta Milik Warga Kota Batu, Dua Terdakwa Diadili

Saat ini, harga telur di tingkat peternak hanya di angka Rp 21 ribu per kilogram. Di tingkat pedagang, harganya Rp 22,5 ribu per kilogram. Sedangkan, di tingkat eceran pasar berkisar Rp 24 ribu per kilogram. Idealnya, dengan nilai tukar dolar yang sedang tinggi, harga telur turut terkatrol naik.

“Setidaknya bisa tembus Rp 22,5-23 ribu per kilogram di tingkat peternak,” terangnya. Angka tersebut dinilai logis untuk menutup biaya produksi harian. Sebab, harga pakan ayam atau konsentrat terus merangkak naik. Ludi merinci, harga konsentrat baru saja naik Rp 250 per kilogram.

BACA JUGA: Dua Tim Debutan Kecil Siap Tantang Jerman dan Spanyol di Piala Dunia 2026

Selama fluktuasi dolar ini, harga konsentrat sudah naik empat kali dengan total kenaikan mencapai Rp 850 per kilogram. “Itu baru konsentrat yang sebagian besar bahan bakunya impor. Belum lagi jagung yang juga naik sekitar Rp 1.000 per kilogram,” keluhnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Batu itu menilai anjloknya harga telur dipicu rendahnya daya beli masyarakat. Peternak terjebak dilema. Margin tipis sebesar Rp 500 hingga Rp 1.000 per kilogram di atas Break Even Point (BEP) kini semakin sulit diraih.

”Kalau daya beli turun tapi biaya produksi juga turun, BEP masih tertutupi. Ini malah dua-duanya berlawanan. Makanya peternak rugi,” imbuh dia. Untuk menekan kerugian, pemerintah pusat melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan sebenarnya telah mengeluarkan imbauan afkir dini bagi ayam petelur usia di atas 90 minggu.

BACA JUGA: Tak Penuhi Standar IPAL, 3 SPPG di Kota Batu Sempat Kena Suspend

Tujuannya memangkas populasi demi menyeimbangkan harga pasar. Namun, langkah ini dirasa sangat berat bagi peternak. “Kalau diafkir dini, secara tidak langsung peternak juga rugi, karena ayam sebenarnya masih produktif bertelur tapi sudah harus dipotong,” sambungnya.

Sebagai jalan keluar, Ludi mendesak pemerintah segera mengintervensi stabilitas kurs dolar. Dengan begitu, harga pakan impor terkendali. Di samping itu, upaya konkret untuk mengerek kembali daya beli masyarakat amat mendesak dilakukan. Ia juga memperingatkan kenaikan harga BBM nonsubsidi baru-baru ini berpotensi memicu efek domino pada pembengkakan biaya logistik pakan ternak ke depan. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#peternak ayam #terancam rugi #pakan ayam naik #harga pakan naik #kota batu