BATU, RADAR BATU - Sektor pertanian di Kota Batu memasang kuda-kuda menghadapi siklus tahunan musim kemarau. Datangnya fenomena bediding alias suhu dingin ekstrem khas dataran tinggi rawan memukul produktivitas tanaman hortikultura dan bunga hias. Menghadapi ancaman tersebut, Pemkot Batu menyiagakan 42 unit green house sebagai benteng pertahanan utama komoditas.
Langkah ini diambil Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu dengan mendorong para petani memaksimalkan rumah tanaman tersebut. Fasilitas bantuan stimulan untuk kelompok tani (poktan) itu dinilai menjadi solusi paling konkret untuk menjaga stabilitas suhu dan kelembapan.
Kepala Distan-KP Kota Batu Hendry Suseno mengungkapkan green house bermanfaat agar tanaman tidak langsung terpapar cuaca ekstrem di luar ruangan. Dengan begitu, suhu bisa terkontrol dengan baik sesuai kebutuhan. Berdasarkan data dari DPKP Kota Batu, 42 unit green house tersebut kini tersebar di berbagai kelurahan dan desa.
Baca Juga: Pondok Green House di Kota Batu Terbakar akibat Korsleting
Dari jumlah tersebut, sebanyak 38 unit sudah dimanfaatkan secara aktif oleh kelompok tani untuk menghalau hawa dingin. Sementara, empat unit sisanya tercatat masih belum digunakan secara optimal dan kini tengah didorong agar segera dioperasikan penuh sebagai benteng pertanian.
Langkah memagari tanaman ini terbilang krusial. Jika suhu terus merosot, ancaman kemunculan embun es bisa memicu kerusakan parah atau gagal panen pada tanaman sayur dan bunga. “Maka keberadaan green house ini diharapkan menjadi Langkah mitigasi menghadapi situasi tersebut,” tegasnya.
Sektor hortikultura selama ini menjadi tulang punggung perputaran ekonomi pertanian di Kota Batu. Guna memastikan mitigasi di seluruh benteng pertanian berjalan lancar, Hendry mengaku bakal terus memperkuat jalur komunikasi dengan para penyuluh lapangan dan tenaga pendamping desa.
Baca Juga: BMKG Peringatkan Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Waspadai Potensi El Nino
Melalui jaringan tersebut, update informasi perubahan cuaca dan langkah penanganan bisa langsung ditransmisikan kepada seluruh poktan. “Saat ini, ada sekitar 290 poktan yang rutin berkoordinasi selama cuaca ekstrem ini,” jelasnya.
Menurutnya, masa transisi musim kerap memicu kemunculan hama yang sulit diprediksi. Kondisi lingkungan yang pekat dengan kabut serta kelembapan tinggi berpotensi subur menjadi sarang penyakit.
Kendati saat ini Tengah efisiensi anggaran, Hendry memastikan pasokan logistic untuk benteng pertanian ini tidak akan kendor. Bantuan sarana produksi pertanian, termasuk suplai pestisida, dipastikan tetap menjadi prioritas utama. Dengan begitu, produktivitas tanaman dan kesejahteraan Petani bisa tetap terjaga. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho