BATU - Pembengkakan biaya kemasan berbasis komponen impor mulai menggerus sektor hilir pariwisata Kota Batu. Tentu saja itu akibat lonjakan. Dampak pelemahan rupiah ini memaksa sejumlah pusat oleh-oleh di Kecamatan Junrejo menaikkan harga jual produk komoditas buah tangan.
Hal itu juga implikasi gelombang koreksi harga dari para pemasok alias supplier. General Manager Pusat Oleh-Oleh Buah Tangan Didik Sulistyo menjelaskan sistem konsinyasi atau barang titipan membuat pihak toko tidak memiliki pilihan selain mengikuti fluktuasi modal dari produsen.
“Begitu supplier meminta koreksi harga akibat beban produksi yang naik, harga jual di toko otomatis ikut menyesuaikan,” ujarnya. Kenaikan harga bervariasi dari seribu hingga ribuan rupiah per produk. Pemicu utamanya adalah meroketnya harga bahan baku plastik serta kardus pembungkus yang terdampak rantai pasok impor.
Harga keripik tempe kini naik dari Rp 13 ribu menjadi Rp 14 ribu per bungkus. Koreksi harga lebih berat terjadi pada produk bersambal lauk yang melonjak dari Rp 33 ribu menjadi Rp 40 ribu. “Termasuk kripik buah yang sebelumnya Rp 76 ribu kini menjadi Rp 80 ribu per bungkus,” beber Didik.
Baca Juga: SPMB Jatim 2026 Buka Jalur Prestasi Akademik, Simak Bobot Penilaian dan Jadwalnya
Produk olahan pie apel juga ikut merangkak naik dari Rp 36 ribu menjadi Rp 37 ribu dalam beberapa waktu terakhir. “Kalau kondisi ini terus memburuk tentu harganya bisa tembus Rp 40 ribu,” keluhnya.
Melambungnya harga akibat inflasi global ini akhirnya mengubah perilaku belanja para pelancong. Demi menekan pengeluaran, wisatawan lokal kini menyiasati bawaan dengan beralih ke kemasan plastik biasa dan meninggalkan kemasan kardus tebal. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan