BATU, RADAR BATU - Ratusan pemilik penginapan di kawasan wisata Songgoriti terpuruk. Penyebabnya, penurunan drastis volume kunjungan wisatawan. Dari sekitar 600 vila yang terdata, kini hanya tersisa 150 hingga 200 unit yang masih beroperasi. Tarif sewa sudah dipangkas habis di rentang Rp 80-150 ribu per malam, tapi wisatawan tetap tak melirik.
Kawasan yang dulunya menjadi primadona rekreasi itu kini berubah sepi dan kehilangan daya pikat. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi. Di antaranya ketidakberdayaan pelaku usaha konvensional menghadapi disrupsi digital. Selain itu, pembenahan infrastruktur yang mandek turut mengancam eksistensi kawasan wisata legendaris itu.
Pergeseran pola pemesanan akomodasi ke sistem daring alias online menjadi pukulan telak bagi para pemilik penginapan lokal. Minimnya literasi digital memaksa sebagian besar pemilik vila bertahan dengan cara lama yang tidak lagi efektif.
“Kondisinya sekarang sangat sepi karena mayoritas wisatawan memesan lewat aplikasi. Sementara, pemilik vila yang gagap teknologi masih menggunakan cara manual dengan cara turun langsung ke jalan untuk mencegat kendaraan yang lewat,” ujar Agus Imam, warga asli Songgoriti sekaligus salah satu pemilik usaha vila di sana.
BACA JUGA: Jangan Minder Jadi Introvert, Banyak Jurusan Kuliah yang Justru Membutuhkan Karakter Ini
Agus membeberkan dari estimasi 500 vila lebih di Songgoriti, mayoritas kosong melompong. Bahkan, momen hari besar yang dulunya menjadi momen panen raya kini kerap dilewati tanpa pengunjung. “Dari sekitar 600 vila yang terdata, kini hanya tersisa 150 hingga 200 unit yang masih nekat beroperasi,” tegasnya.
Kondisi sama juga terjadi di sektor UMKM di sana. Dari 30 kios pusat oleh-oleh yang berdiri, kini hanya 8 toko yang bertahan buka. Sisanya memilih tutup permanen. Faktor lain yang memperparah kondisi Songgoriti adalah kalahnya persaingan dengan destinasi buatan modern, seperti Flora Wisata Santerra dan Batu Night Spectacular (BNS).
BACA JUGA: Bediding Datang Lebih Awal, Suhu Malam hingga Pagi di Malang Raya Kian Menggigit
Di sisi lain, aset wisata milik Kabupaten Malang tersebut justru mengalami stagnasi tanpa ada pembaruan visual dan fasilitas. Wisata Tirta Nirwana, misalnya, kini kian ditinggalkan karena dibiarkan telantar tanpa sentuhan inovasi dari pemerintah. Dampak matinya sektor pariwisata ini memaksa masyarakat setempat memutar haluan demi menyambung hidup.
Miskan, warga Songgoriti lainnya menyebut sebagian besar warga kini memilih meninggalkan bisnis pariwisata dan beralih menjadi peternak sapi perah atau petani. Masyarakat kini menaruh harapan terakhir pada intervensi kebijakan otoritas terkait. Tanpa adanya renovasi total, Songgoriti dipastikan terkubur modernisasi pariwisata. (Ramyzard Rafsanjani/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan