BATU, RADAR BATU - Keengganan beradaptasi dengan teknologi dan keengganan meremajakan fasilitas menjadi vonis mati bagi sektor perhotelan konvensional. Nasib nahas ini menimpa Hotel Mentari di Kecamatan Junrejo. Dari 34 kamar yang tersedia, hanya enam saja yang terisi selama libur panjang akhir pekan lalu. Artinya, okupansinya hanya 15 persen saja.
Kondisi fisik bangunan secara gamblang mencerminkan krisis finansial yang mendera. Dari total 41 kamar, tujuh di antaranya dibiarkan rusak dan mangkrak. Yanti, staf Front Office yang telah mengabdi selama 17 tahun di sana menyebut tingkat keterisian kamar anjlok secara ekstrem.
BACA JUGA: Kutu Kebul Jadi Biang Kerok Virus Gemini, Distan Kota Batu Imbau Sanitasi Ketat Lahan
Sebelum hantaman pandemi Covid-19 pada 2019, okupansi rutin menembus 40 persen. Kini, angka tersebut merosot drastis hingga tersisa 3 hingga 5 persen saja. Dua tahun lalu, okupansi hotel tersebut masih sanggup menjual 15 hingga 20 kamar saat long weekend. Akar masalah ternyata tidak hanya bersumber pada sisa imbas pandemi.
General Affair Hotel Mentari Purwanto membeberkan bahwa hotel tersebut absen sepenuhnya dari daftar Online Travel Agent (OTA). “Pemilik menolak mendaftarkan hotel ke platform OTA. Otomatis kami kalah telak dengan para kompetitor yang sudah masif secara digital,” jelas Purwanto.
Efisiensi ekstrem pun terpaksa diambil demi memperpanjang napas operasional. Jumlah karyawan yang semula 25 orang kini dipangkas habis hingga tersisa sembilan orang. Bahkan, layanan dapur dan restoran telah ditutup permanen sejak tahun 2021.
BACA JUGA: Daun Menguning dan Keriting, Virus Gemini Gerus Panen Tomat di Kota Batu
Purwanto, yang telah mengawal hotel ini sejak masa jayanya pada 2003, harus menelan pil pahit melihat tempat kerjanya menanti waktu tutup. “Saat ini kami bertahan murni karena ada suntikan subsidi silang dari bisnis minimarket milik owner,” tuturnya.
Masa keemasan pada 2005 kini hanya tinggal memori. Kala itu, omzet melimpah dan harga sewa kamar mencapai Rp 400 ribu per malam di hari biasa. “Harapannya, ada investor atau kompetitor yang mau diajak kolaborasi atau kerja sama, sebelum pemilik benar-benar menutup tempat ini,” pungkasnya. (Muhammad Afif Hlaimatul Mustofa/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan