Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Omzet Pusat Oleh-Oleh di Kota Batu Terjun Bebas hingga 70 Persen, Ternyata Ini Sebabnya

Fajar Andre Setiawan • Jumat, 29 Mei 2026 | 09:55 WIB
KONTRAS: Suasana lengang di Pusat Oleh-Oleh Harum Manis, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, pada momen libur Idul Adha. Tingginya volume wisatawan ternyata tidak sejalan dengan tingkat belanja akibat anjloknya daya beli.
KONTRAS: Suasana lengang di Pusat Oleh-Oleh Harum Manis, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, pada momen libur Idul Adha. Tingginya volume wisatawan ternyata tidak sejalan dengan tingkat belanja akibat anjloknya daya beli.

BATU, RADAR BATU - Anomali ekonomi melanda jantung pariwisata Kota Batu sepanjang Januari hingga Mei ini. Kunjungan wisatawan rupanya tidak berbanding lurus dengan perputaran uang di sektor ritel. Misalnya di Pusat Oleh-Oleh Harum Manis di Kecamatan Junrejo, omzet harian susut hingga 70 persen. Hal itu disinyalir lantaran rendahnya daya beli masyarakat dan meroketnya harga bahan baku produksi.

Kepala Toko Harum Manis Didik Andrian mengaku pendapatan harian yang biasanya menembus angka Rp 10 juta kini menguap. Dia mengklaim omzet kini mentok di angka Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per hari. "Omzet dan transaksi turun sangat drastis sejak awal tahun," keluh Didik.

Dia menilai gempuran nilai tukar dolar Amerika Serikat menjadi biang kerok utama.

Baca Juga: Tempat Oleh-Oleh dengan Suasana Paling Anti Mainstream di Kota Batu

Tingginya kurs memicu efek domino pada lonjakan harga bahan pangan di tingkat produsen. Situasi ini memunculkan ironi di lapangan. Arus lalu lintas pelancong yang masuk ke Kota Batu tetap padat. Namun, mereka cenderung menahan pengeluaran belanja tersier.

Perilaku konsumsi berubah drastis imbas tekanan makroekonomi yang memukul ekonomi kelas menengah. Sebagai produsen jajanan mandiri, posisi Harum Manis kian terjepit. Kenaikan ongkos produksi memaksa manajemen mengerek harga jual ke konsumen. Penyesuaian harga dilakukan secara tipis dan berhati-hati.

Baca Juga: 4 Rekomendasi Pusat Oleh-Oleh Mudik Lebaran di Kota Batu

Langkah ini diambil sekadar untuk menjaga napas operasional, tanpa mengorbankan keterjangkauan produk unggulan mereka seperti wingko apel, wingko durian, dan wingko nanas. Menolak pasrah pada keadaan, Didik menerapkan taktik gerilya. Strategi jemput bola diluncurkan secara agresif.

Karyawan dikerahkan turun langsung menyasarkan tongkantong keramaian di objek wisata strategis. Area Jatim Park 1, Jatim Park 2, Jatim Park 3, Santerra, hingga Mikutopia menjadi target sasaran penetrasi produk. Tidak hanya mengandalkan penjualan fisik jalanan, ekspansi digital juga dipacu.

Diskon dan promosi ditebar melalui platform daring untuk memancing gairah belanja konsumen dari luar daerah. Adaptasi ini menjadi satu-satunya cara bertahan hidup di tengah resesi daya beli. Didik mendesak adanya intervensi pemulihan ekonomi nasional yang konkret dari pemerintah. (kr2/dre)

 

Editor : A. Nugroho
#rendahnya daya beli #omzet #kota batu #pariwisata