Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Kerap Gagal Panen, Harga Andewi di Kota Batu Masih Tembus Rp 20 Ribu Per Kilogram

Zanadia Manik Fatimah • Minggu, 26 April 2026 | 15:41 WIB
Ilustrasi petani di Kota Batu
Ilustrasi petani di Kota Batu.
 
KOTA BATU, RADAR BATU – Setelah beberapa waktu lalu sempat melonjak tinggi akibat gagal panen, kini harga sayur andewi di Kota Batu mulai menunjukkan tren penurunan. Namun, gagal panennya sejumlah lahan berdampak pada harga yang belum sepenuhnya stabil di pasaran.
 
Sebelumnya, harga andewi sempat menembus Rp 25 ribu per kilogram pada pertengahan April 2026. Kenaikan itu dipicu minimnya pasokan dari petani akibat cuaca ekstrem yang memicu serangan penyakit tanaman. 
 
Meski berangsur turun menjadi sekitar Rp 18-20 ribu per kilogram di pasaran, namun harganya belum benar-benar seperti biasanya. “Sudah mulai turun, tapi memang belum kembali normal karena hasil panen belum maksimal,” ujarnya.
 
Menurutnya, kondisi cuaca yang tidak menentu, seperti panas terik dan tiba-tiba hujan deras menjadi faktor utama penyebab gagal panen.
 
Perubahan cuaca ekstrem tersebut memicu munculnya berbagai penyakit tanaman, terutama busuk akar yang paling sering ditemui pada tanaman andewi.
 
“Kalau yang paling banyak itu busuk akar, jadi banyak tanaman yang tidak bisa dipanen,” jelasnya.
 
Ia menambahkan, meski harga masih relatif tinggi, permintaan pasar terhadap andewi tetap stabil. Hal ini karena andewi merupakan salah satu sayuran yang cukup diminati masyarakat untuk berbagai olahan.
 
Zaini juga menjelaskan jika dalam kondisi normal, harga andewi dari petani berada di kisaran Rp 5 ribu per kilogram. Itu umumnya meningkat dua kali lipat saat sampai ke konsumen. Namun, akibat gangguan produksi, harga menjadi jauh lebih tinggi dari biasanya.
 
Sebagian besar pasokan andewi di Kota Batu berasal dari wilayah Kecamatan Bumiaji, seperti Desa Pandanrejo, Sumberejo, dan Bumiaji. Wilayah tersebut memang dikenal sebagai sentra produksi sayur mayur.
 
Terpisah, petani asal Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Yosia Abner Bezaleel, membenarkan jika berbagai tanaman memang rentan terserang penyakit. Salah satunya andewi yang mudah busuk. “Saya rasa penyebabnya kelembaban tinggi akibat curah hujan tinggi sehingga bakteri patogen lebih banyak tumbuh dan menyerang tanaman andewi,” ungkapnya. 
 
Ia menegaskan fenomena itu tak hanya terjadi pada andewi. Lebih dari itu, menurutnya juga bisa dirasakan semua komoditas hortikultura. Ia menyebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menekan risiko gagal panen adalah dengan perbaikan sistem budidaya, termasuk penggunaan greenhouse. “Dengan greenhouse, tanaman bisa lebih terlindungi dari cuaca ekstrem,” pungkasnya. 
 
Penulis: Zanadia Manik Fatimah
Editor : A. Nugroho
#andewi #sayur #harga #kota batu #panen