BATU, RADAR BATU - Lonjakan investasi mengubah peta ekonomi Kota Batu. Sepanjang 2025, nilai investasi yang masuk mencapai Rp2,4 triliun atau dua kali lipat dari target Rp1,2 triliun. Capaian itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi dan Konsolidasi Provinsi (Rakonkorprov) DPP Apindo Jatim di Senyum Hotel, Jawa Timur Park 3 pada Rabu lalu (22/4).
Angka tersebut melampaui capaian dua tahun sebelumnya. Pada 2024, realisasi investasi tercatat Rp1,424 triliun. Sementara, 2023 sebesar Rp1,160 triliun. Tren ini menunjukkan kepercayaan investor yang terus menguat.
Plt Wali Kota Batu Heli Suyanto menilai lonjakan ini hasil kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha. Peran asosiasi pengusaha dinilai signifikan dalam mendorong iklim investasi yang kondusif. “Sinergi ini membuat capaian investasi meningkat tajam,” ujarnya.
BACA JUGA: Bingung Pilih SMP Negeri di Kota Batu? Berikut 3 Rekomendasi Sekolah yang Jadi Incaran
Namun, arah investasi mulai dikendalikan. Keterbatasan lahan menjadi faktor utama. Kota Batu hanya memiliki tiga kecamatan dengan dominasi kawasan hijau. Karena itu, pemerintah mendorong investasi berbasis jasa.
“Kami berharap investasi mengarah ke sektor jasa,” tegas Heli. Sebaliknya, sektor properti mulai mendapat perhatian khusus. Pemerintah memberi sinyal kehati-hatian. Sejumlah kasus menunjukkan adanya pembelian lahan yang ternyata tidak sesuai peruntukan.
“Banyak investor tergiur harga murah, tapi lahannya tidak bisa dibangun,” ujarnya. Selain nilai investasi, penyerapan tenaga kerja juga menjadi sorotan. Pemerintah meminta investor memprioritaskan tenaga lokal. Model ini dinilai berhasil diterapkan oleh pelaku usaha besar di sektor pariwisata.
BACA JUGA: 3 Rekomendasi Spot Makan Malam Romantis di Batu, Bikin Kamu Jatuh Hati Sekali Lagi
Di sisi lain, penguatan ekonomi warga juga diarahkan melalui UMKM. Pemerintah menyiapkan pelatihan dan pendampingan, termasuk penguatan branding. Tujuannya, mendorong pelaku usaha kecil naik kelas. “UMKM harus mandiri. Bahkan bisa menjadi mitra strategis bagi investor,” tandasnya. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan