Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Sewa Akun Ojol Marak di Kalangan Mahasiswa, Tekanan Ekonomi dan Rumitnya Pendaftaran Jadi Pemicu

Fajar Andre Setiawan • Minggu, 1 Maret 2026 | 11:05 WIB

Ilustrasi orang yang selalu mengucapkan terima kasih kepada ojol (Geediting)
Ilustrasi orang yang selalu mengucapkan terima kasih kepada ojol (Geediting)

MALANG KOTA - Praktik sewa akun ojek online (ojol) marak di kalangan mahasiswa di Kota Malang dalam beberapa waktu terakhir. Tekanan biaya hidup dan rumitnya proses pendaftaran mitra resmi mendorong sebagian mahasiswa memilih jalan pintas tersebut.

Fenomena ini beredar terbuka. Informasi penyewaan akun menyebar melalui grup WhatsApp hingga percakapan dari mulut ke mulut di sekitar kampus. Akun siap pakai ditawarkan dengan sistem sewa mingguan.

Salah seorang mahasiswa semester enam di salah satu kampus negeri di Kota Malang, Malik (bukan nama sebenarnya) mengaku menyewa akun ojol karena uang saku sebesar Rp800 ribu per bulan tak lagi cukup. Biaya kos dan makan terus naik.

Ia menyewa akun dengan tarif Rp250 ribu per minggu. Dalam sehari, ia bisa memperoleh Rp80-150 ribu. Jika dihitung, pendapatan mingguannya berkisar Rp560-900 ribu. Setelah dipotong biaya sewa, ia mengantongi bersih Rp310-650 ribu per minggu.

“Daftar resmi lama dan syaratnya banyak. Kebutuhan hidup tidak bisa ditunda,” ujarnya. Persyaratan seperti SIM C, SKCK, dan rekening pribadi kerap menjadi kendala. Sistem kuota wilayah juga sering ditutup karena jumlah mitra yang membludak.

Mayoritas mahasiswa penyewa akun memilih layanan antar makanan. Risiko dinilai lebih kecil karena minim interaksi tatap muka. Foto pengemudi jarang dicocokkan dengan identitas di aplikasi.

“Kalau antar penumpang, wajah pasti dicek. Antar makanan lebih aman,” kata Ridwan (bukan nama sebenarnya), mahasiswa lain yang melakukan praktik serupa. Layanan pesan-antar makanan dianggap fleksibel. Sebab, bisa disesuaikan dengan jadwal kuliah.

Namun praktik ini menyimpan risiko. Kendali akun tetap berada di tangan pemilik asli. Setiap kali hendak aktif atau nonaktif, penyewa harus melapor. Seluruh pendapatan masuk ke rekening pemilik akun, lalu ditransfer kembali setelah dipotong biaya sewa.

Situasi ini membuka potensi eksploitasi. Penyewa tidak memiliki kontrol penuh atas akun maupun perlindungan jika terjadi sengketa. Di sisi lain, persaingan antarpengemudi semakin ketat. Data perusahaan menunjukkan jumlah mitra pengemudi salah satu platform telah mencapai jutaan orang secara nasional. Pendapatan per pengemudi pun menurun.

Platform penyedia layanan secara tegas melarang penggunaan akun oleh pihak lain. Pelanggaran dapat berujung pada pemutusan kemitraan. Namun desakan biaya hidup, praktikum, dan kebutuhan sehari-hari membuat mahasiswa mengabaikan risiko tersebut.

Maraknya sewa akun ojol menjadi cermin tekanan ekonomi yang dihadapi mahasiswa di Kota Malang. Di balik citra Kota Pelajar, sebagian mahasiswa bertahan dengan cara yang rawan pelanggaran demi menutup kebutuhan hidup. (Wanasa Rahmat Akbar Adzani/ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#malang #mahasiswa #akun